Suaranusantara.com– Presiden RI Prabowo Subianto memberikan sentilan atas tagar yang viral belakangan ini #KaburAjaDulu.
Prabowo pun mempersilakan kepada pihak-pihak yang ingin mengikuti trend ‘Kabur Aja Dulu’ itu. Sebab, kata Prabowo, kabur itu tak semudah sekedar membuat tulisan.
“Indonesia gelap, kabur aja deh. Yo kabur aja loh, emang gampang lo di situ, di luar negeri? Di situ dikejar-kejar,” kata Prabowo dalam sambutannya di acara Penutupan Kongres PSI 2025, dilansir Selasa 22 Juli 2025.
Kata Prabowo, maraknya narasi penyebaran pesimisme, menurutnya sengaja dibentuk oleh pihak-pihak tertentu.
Prabowo menyebut opini publik sedang dibentuk dengan penggunaan teknologi, sosial media, dan pendanaan untuk membangun persepsi negatif tentang keadaan negara.
“Memang ada usaha tadi menggunakan teknologi, menggunakan uang, menggunakan sosmed, membayar pakar-pakar, nyinyir, menghidupkan pesimisme. Saya geleng-geleng kepala, ada orang-orang yang berperan sebagai orang pintar, berperan sebagai pemimpin, tapi yang disebarkan adalah pesimisme,” ujarnya
Menurutnya, rakyat Indonesia saat ini sudah jauh lebih melek informasi dan dapat menilai sendiri arah kepemimpinan negara.
“Ingat, rakyat Indonesia di tahun 2025 ke depan bukan rakyat Indonesia tahun 90-an. Rakyat Indonesia sekarang pandai-pandai, rakyat Indonesia punya gadget semua. Rakyat Indonesia itu menangkap siapa pemimpin yang benar dan siapa pemimpin yang tidak benar,” tutur Prabowo.
Sebagai informasi, #KaburAjaDulu belakangan ini memang ramai diperbincangkan warganet di media sosial X.
Tagar tersebut berisi unggahan tentang keinginan pindah ke luar negeri, termasuk dengan membagikan informasi beasiswa, peluang kerja, hingga alasan pribadi terkait ketidakpuasan terhadap situasi dalam negeri.
Beberapa warganet bahkan mengaitkan tagar itu dengan keluhan tentang pendidikan, lapangan kerja, dan kualitas hidup di Indonesia.
Namun di sisi lain, tidak sedikit pula yang menyangsikan wacana pindah negara ini. Sebagian menyebut biaya hidup di luar negeri jauh lebih tinggi, sementara beberapa lainnya memilih bertahan karena alasan keluarga dan iklim tropis Indonesia yang dianggap lebih nyaman.


















Discussion about this post