Geliat Pengrajin Souvenir di Nias Selatan

Taguikhöu Wau sedang membuat miniatur papan selancar | Foto: Wilson Loi
Taguikhöu Wau sedang membuat miniatur papan selancar | Foto: Wilson Loi

Telukdalam – SuaraNusantara

Desa Bawömataluo merupakan desa adat yang berada di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Desa sejuta pesona ini dikenal luas di seluruh nusantara, bahkan mendunia lewat atraksi lompat batu dan arsitektur rumah adatnya. Namun Bawömataluo sebenarnya tidak melulu identik dengan lompat batu dan rumah adat, sebab desa ini juga memiliki sejumlah pengrajin handal yang memproduksi souvenir khas Nias.

Para pengrajin ini tidak memiliki latar belakang pendidikan khusus di bidang seni kerajinan tangan. Namun kualitas hasil produksi mereka tak kalah bila dibandingan dengan daerah lain di luar Kepulauan Nias.

Beberapa jenis souvenir yang dihasilkan diantaranya patung tari perang, gantungan kunci, gelang dan kalung. Berbagai bahan dasar digunakan untuk membuat aneka jenis souvenir ini, mulai dari kayu sampai tanduk dan kulit penyu Harga termurah Rp 25 ribu dan termahal Rp 10 juta, tergantung jenis kerajinan dan bahan baku yang digunakan.

“Banyak pembeli protes soal harga. Kata mereka mahal. Kita jawab, karena proses pengerjaannya,” ujar salah seorang pengrajin souvenir, Fanosisi Manaö, saat ditemui di kediamannya, Jumat (9/9/2016).

Menurut Fanosisi,  proses pengerjaan kerajinan khas Nias memakan waktu lama dan bahan bakunya terkadang sulit didapat, seperti ikat pinggang yang terbuat dari kulit penyu dan aksesoris lainnya dengan bahan dasar yang sama.

“Kadang pembeli ingin ikat pinggang dari kulit penyu atau aksesoris lain dari bahan itu, tapi tidak bisa kami penuhi karena bahannya kurang atau bahkan tidak ada. Ini juga merupakan salah satu kendala yang kami hadapi,” katanya.

Kulit penyu atau biasa disebut goyo ini umumnya mereka peroleh dari Pulau Tello, namun bahan baku yang ada tidak sebanding dengan jumlah permintaan. Hal ini menjadi salah satu sebab kenapa harga barangnya menjadi mahal.

Selain kulit penyu, bahan baku lainnya yang juga sulit diperoleh adalah tanduk kerbau dan tanduk kijang. Para pengrajin enggan mengganti bahan-bahan baku tadi dengan bahan lain yang lebih mudah didapat karena salah satu ciri khas kerajinan Desa Bawömataluo terletak pada bahan bakunya.

“Kita sering menggunakan bahan tanduk untuk aksesoris, namun sekarang susah dapat bahannya,” keluh Fanosisi.

Fanosisi menjelaskan, untuk pembuatan patung dan beberapa asesoris berbahan baku kayu, dirinya bersama pengrajin lain biasa memakai kayu afoa (sejenis kayu jelutung atau kayu minyak), kayu manawadanö, dan kayu berua, serta tempurung kelapa. Kayu-kayu ini adalah kayu yang banyak tumbuh di Kepulauan Nias, terutama di Desa Bawömataluo. Bahan baku kayu ini jelas lebih mudah ditemukan ketimbang kulit penyu atau tanduk hewan.

Fanosisi merupakan pengrajin yang memulai karir ukiran sejak tahun 1982 setelah belajar dari orang tua serta pengrajin lain yang lebih senior. Saat ini dia mengelola kelompok pengrajin beranggotaan 7 orang yang diberi nama KUB (Kelompok Usaha Bersama) Raizatua.

KUB Raizatua ini pernah beberapa kali mendapat kesempatan mengikuti studi banding di luar Kepulauan Nias seperti di Bali, Jepara, Tasikmalaya, dan Jogjakarta.

Di tempat berbeda, Taguikhöu Wau, pengrajin lain yang ada di Desa Bawömataluo menuturkan, hasil kerajinan selain langsung dibeli wisatawan yang berkunjung, juga dipesan orang-orang di luar Pulau Nias.

“Kita juga melayani pesanan dari luar Kepulauan Nias, dari orang-orang yang sebelumnya sudah mengenal hasil kerajinan kita di sini,” jelasnya.

Untuk urusan keuntungan, baik Fanosisi Manaö maupun Taguikhöu Wau mengatakan omzet penjualan tak bisa diprediksi karena naik turun. “Untuk omzet kita tidak bisa prediksi karena tergantung tamu yang hadir. Misalnya hari ini sepi, barang tidak ada yang beli. Tapi di lain waktu tamu antusias untuk membeli. Makanya kita tidak bisa prediksi berapa omzetnya,” tutur Fanosisi.

Selain Desa Bawömataluo, ada juga beberapa desa lain yang memproduksi suvenir yang sama, seperti di Desa Lahusa Fau, Desa Hilinamöza’ua, dan beberapa desa lain yang ada di Kabupaten Nias Selatan.

Para pengrajin ini mengaku dapat angin segar dengan adanya Pesta Ya’ahowu di Kepulauan Nias, karena setidaknya jumlah wisatawan akan meningkat selama event berlangsung. “Kita senang dengan adanya Pesta Ya’ahowu ini, karena setidaknya hasil produk kita dapat terjual kepada para tamu yang dating,” ujar Fanosisi Manaö.

Mereka pun berharap ke depannya ada penampung yang dapat membantu memasarkan hasil karya para pengrajin di Desa Bawömataluo. Kiranya pemerintah daerah dapat menaruh perhatian kepada kelangsungan hidup para pengrajin ini. (Wilson Loi)