
Siapa pun boleh jadi pemimpin, jadi penguasa. Namun, apa yang membuat seorang pemimpin dikenang bahkan diagungkan? Tidak lain: karya, warisan berupa nilai-nilai hidup serta karakter yang menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun–yang tidak lekang digilas zaman.
Nah, inilah yang membedakan mantan Bupati Nias Dalimend dengan bupati lainnya. Terpilih menjadi Bupati Nias pada Oktober 1975, Dalimend langsung tancap gas. Situasi Nias ketika itu masih cukup darurat. Nias didera berbagai persoalan yang akut: kemiskinan, infrastruktur yang amat memprihatinkan, sumberdaya manusia yang langka dan berbagai keterbatasan lainnya.
Celakanya, kebutuhan dan kompleksitas persoalan Nias itu sangat tidak sebanding dengan ketersediaan anggaran. Namun, Dalimend tidak mau takluk. Di tahap awal, ia merekrut kaum terdidik dari luar untuk menopang pemerintahannya. Sejumlah tokoh intelektual dari BNKP—di antaranya Drs. Dalihuku Zagoto dan Bambowo Laiya, STh, MA—diajak untuk memperkuat “kabinet”-nya.
Sejumlah sarjana lainnya, seperti Drs. N. Gea, Pdt. Filifo Laia, STh, Pdt. Christian Larosa, STh juga direkrut dan menjadi PNS. Tidak lama kemudian—Maret 1976—Dalimend berhasil membujuk Hanati Nazara, SH yang berkarir di Kementerian Dalam Negeri untuk menjadi Sekretaris Daerah Nias.
Dalimend bukan orang yang asal kerja. Konsep pembangunan yang diusungnya diformulasi dengan titel “Panca Program Pembangunan Nias”. Ada lima skala prioritas, yakni sektor perhubungan, pendidikan, pertanian, kesehatan dan pariwisata.
Sebagai yang berlatar militer, Dalimend dikenal sebagai orang yang tegas dan berdisiplin tinggi. Ia memulai dengan dirinya sendiri. Masuk kantor lebih pagi. Menghadiri rapat lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Menerapkan dan menghadiri apel pagi. “Dalimend tak segan meninggalkan istrinya, kalau sudah saatnya harus bergerak ke suatu acara,” tutur Lalaziduhu Mendrofa—mantan ajudan Dalimend. Ia pun tak sungkan untuk “membina” pegawai yang tidak disiplin.
Namun, Dalimend bukan seorang yang otoriter. Tidak harus “sok jagoan”. Di balik sikap tegasnya, ia rajin membangun komunikasi dengan anak buahnya. Caranya, dengan menggelar coffee morning di kantornya. Ia sebenarnya pembelajar ulung. Acara coffee morning tersebut dikelolanya untuk menerima masukan dari anak buahnya. Bertukar pikiran dan membangun strategi bersama. Ia berusaha melibatkan banyak orang dalam kerja-kerja yang ia lakukan. Itu salah satu sisi hebatnya: mengelola energi sekitarnya.
Tidak mudah bagi Dalimend untuk memoles Nias dalam lima tahun pemerintahannya. Namun, ia telah menunjukkan jati dirinya: seorang pemimpin yang visioner. Sadar bahwa sumberdaya dana amat terbatas, maka Dalimend fokus meletakkan fondasi pembangunan yang efeknya nyata dan prospektif di masa depan. Dalimend pun berjibaku membuka keterisoliran, membangun infrastruktur jalan, untuk menghubungkan ibu kota dengan kecamatan lainnya. Baik arah utara, barat, tengah dan selatan. Selain jalan darat, ia juga menata infrastruktur pelabuhan di beberapa titik—Gunungsitoli, Telukdalam, Tello, Lahewa dan Sirombu–agar bisa dilabuhi oleh kapal yang lebih besar.
Karya yang sangat fenomenl adalah pembangunan Bandara Binaka. Dalimend bersikukuh untuk membangun sebuah bandar udara untuk memperlancar dan memperpendek jarak Nias dengan dunia luar. Apalagi, pada 1974, Nias sudah diproklamirkan oleh Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai salah satu destinasi wisata nasional.
Tidak gampang membangun sebuah bandara dalam situasi anggaran yang cekak. Lobi pun dilakukannya ke berbagai pihak. Selain itu, ia melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat setempat untuk mendapatkan tanah hibah. Tidak cukup itu, dalam pengerjaannya, ia mengajak semua pihak untuk bergotong royong. Hasilnya? Lapangan Terbang Perintis Binaka berhasil dibangun, bisa didarati oleh pesawat berbadan kecil, serta diresmikan oleh Menteri Perhubungan Prof. Dr. Eml Salim pada 1977.
Karya lain yang tidak kalah penting adalah peningkatan sumberdaya manusia melalui pembangunan di bidang pendidikan. Di masa Dalimend, sekolah di berbagai tingkatan dibangun, termasuk pengembangan IKIP Gunungsitoli. Guru-guru diproduksi lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan pendidik/pengajar di sekolah. Di zaman Dalimend, banyak sekali guru yang menikmati “berkat”, karena diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dalimend juga mendorong beberapa sarjana untuk meng-up grade pendidikan formalnya. Dua di antaranya yang menikmati Drs. Tal Larosa—yang kemudian menjadi Bupati Nias—dan Drs. N. Hondro.
Dalimend juga menaruh perhatian serius untuk mengembangkan pariwisata Nias. Di masanya terbentuk Dinas Pariwisata, yang pertama kali dikomandoi oleh Pdt. Bambowo Laiya, STh, MA. Selain memperlancar jalur transportasi, ia bersama tim menata lokasi wisata andalan, di antaranya Pantai Sorake Telukdalam, Desa Bawomataluo Telukdalam, Batu Megalit di Gomo serta Pulau Asu. Untuk memberi kenyamanan buat turis mancanegara, dibangun sebuah Rest House di dekat pelabuhan laut Telukdalam.
Bidang kesehatan juga tidak luput dari perhatian Dalimend. Selain berusaha membangun beberapa puskesmas, mengembangkan RSU di Gunungsitoli dan di Hilisimaetano Telukdalam, juga berusaha menyediakan lebih banyak tenaga medis dan perawat.
Berbagai kiprah lain Dalimend bisa dibaca dalam catatan Lalaziduhu Mendrofa berjudul “Pembangunan Nias dan Mengenal Sosok Dalimend (Dalihuku Mendrofa) Bupati Nias Periode 1975-1980”.
Sekilas Sosok Dalimend
Lahir di Hiliduho Gunungsitoli pada 1 Juli 1930, dengan nama Dalihuku Mendrofa. Anak pertama dari 12 bersaudara dari pasangan Tuhombowo Mendrofa dan Kamisa Mendrofa.
Adiknya, Dalihada Mendrofa—dipanggil Ama Agus—menuturkan, sejak kecil Dalihuku dijadikan anak angkat oleh seorang keluarganya, Dalikhami Mendrofa, yang bekerja di Bea Cukai. Kebetulan, Dalikhami tidak punya anak. Dalihuku sempat sekolah di SR Gunungsitoli. Namun, karena ayah angkatnya pindah tugas ke Aceh, maka ia pun pindah dan sekolah di Aceh. Di keluarga dan lingkungan yang kental dengan agama Islam ini, akhirnya Dalihuku menganut agama Islam dan namanya “berubah” menjadi Dalimend—yang tidak lain singkatan namanya.
Selama sekolah di Aceh, Dalimend terhitung sebagai pelajar yang aktif. Perkenalannya dengan dunia militer, sudah dimulai ketika ia masih sebagai status pelajar. Ia aktif sebagai tentara pelajar. Sejak 1950, ia bergabung pada TNI Angkatan Udara, dengan pangkat Sersan Mayor. Pada 1953 mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran dan pangkatnya menjadi Letnan Muda II. Berturut-turut mengikuti Sekolah Persamaan Perwira pada 1960; Upgrading Course Perwira Material 1965; Sekolah Dasar Perwira 1968; Standarisasi Perwira pada 1968 dan Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara pada 1972.
Pada 1975, ia mencapai pangkat Letnan Kolonel. Pada saat pergantian Bupati Nias pada 1975, namanya mencuat sebagai calon kuat. Kebetulan, Nias masuk klasifikasi A. Artinya, daerah yang diprioritaskan dipimpin dari unsur ABRI. Dalimend menjawab desakan dan kebutuhan warga Nias. Ia pun tampil sebagai pemimpin dan berhasil menorehkan sejarah.
Sebenarnya, ia masih sangat diharapkan untuk memimpin pada periode berikutnya. Namun, menurut penuturan Ama Agus alias Dalihada Mendrofa, istri Dalimen–Yuswir–tidak begitu mendukung pencalonannya kembali. Dalimend pun digantikan oleh Hanati Nazara SH.
Dalimend kemudian berkiprah di luar Nias. Di antaranya sebagai Inspektur Operasi Tertib (Opstib) di Provinsi Timor-timur (1981-1983); Inspektur Opstib di Departemen Kehakiman RI (1983-1985) dan Inspektur Opstib pada Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI (1985-1988). Pada Agustus 1985, ia pensiun dari ABRI dengan pangkat Kolonel.
Dalimend menghembuskan nafas terakhir pada 4 Juli 2010. Meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Sebagai pemegang Surat Tanda Jasa Pahlawan atas perjuangan gerilya membela kemerdekaan RI, maka ia pun berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta, dengan petak makam W-743.
Terima kasih banyak Pak Dalimend, atas segala jasa dan pengabdian bagi Nias dan bangsa Indonesia. (Turunan Gulo, Desty Hulu)

















