Suaranusantara.com- Pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus berupaya meningkatkan kualitas layanan ibadah haji, khususnya dalam penyediaan konsumsi bagi jemaah.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pengembangan teknologi makanan siap saji yang praktis, aman, dan efisien untuk mendukung kebutuhan jemaah haji Indonesia pada musim haji 2026.
Pengembangan teknologi makanan siap saji ini dilakukan oleh BRIN sebagai pelaku utama riset, dengan jemaah haji Indonesia sebagai pihak yang akan menerima manfaat.
Inovasi ini dipaparkan oleh Kepala BRIN, Arif Satria, dalam rapat koordinasi terbatas di Jakarta pada Selasa, 21 April 2026, yang membahas kesiapan pemenuhan pangan haji.
Teknologi yang dikembangkan meliputi berbagai metode pengemasan seperti makanan kaleng, kemasan fleksibel untuk makanan berkuah, hingga sistem pemanas tanpa api yang dapat digunakan hanya dengan menambahkan air dingin.
Teknologi ini dirancang untuk membantu jemaah saat berada di lokasi dengan fasilitas terbatas seperti Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), serta telah melalui uji keamanan pangan sehingga aman dikonsumsi dan tidak mengandung zat berbahaya.
Dalam keterangannya, Kepala BRIN Arif Satria sebagai penanggung jawab pengembangan riset menyatakan bahwa teknologi yang dirancang tersebut telah melewati uji keamanan pangan sehingga dipastikan aman.
“Teknologi ini aman dan sudah melalui uji keamanan pangan, sehingga makanan dapat dipanaskan tanpa api dan tetap layak dikonsumsi,” ujarnya dalam pernyataan resmi pada Selasa (21/4/2026).
Selain itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebagai perwakilan pemerintah juga memberikan dukungan terhadap inovasi ini dengan menegaskan bahwa teknologi tersebut akan meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan konsumsi jemaah haji.
“Ketersediaan pangan bagi jemaah haji Indonesia dipastikan aman dan cukup, sehingga jemaah tidak perlu khawatir,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Pengembangan teknologi ini tidak hanya menitikberatkan pada kepraktisan, tetapi juga pada aspek ketahanan pangan dan kualitas gizi. Dengan teknologi ini, makanan dapat disiapkan dalam jumlah besar, lebih tahan lama, dan tetap memenuhi standar kesehatan serta kehalalan yang berlaku.
Inovasi ini juga menjadi solusi atas tantangan distribusi makanan dalam skala besar selama pelaksanaan ibadah haji. Dengan sistem pemanas tanpa api, jemaah dapat menikmati makanan hangat tanpa memerlukan peralatan tambahan, sehingga lebih efisien dan aman dalam kondisi lapangan yang terbatas.


















Discussion about this post