Suaranusantara.com – Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti, menilai kondisi ekonomi nasional tidak dapat diukur hanya dari pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Menurut Azis, sejumlah negara menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi tidak selalu bergantung pada kurs yang kuat. Ia mencontohkan Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang tetap mampu mempertahankan daya saing ekonominya meski menghadapi dinamika nilai tukar.
“Jepang pernah mengalami pelemahan yen berkepanjangan tetapi tetap menjadi raksasa industri dunia. Korea Selatan beberapa kali menghadapi tekanan mata uang namun berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonominya. Bahkan Tiongkok selama puluhan tahun mengelola mata uangnya bukan untuk mengejar prestise kurs yang kuat, melainkan untuk mendukung industrialisasi dan ekspor nasional,” kata Azis dalam keterangannya.
Ia menegaskan, kekuatan sebuah negara lebih ditentukan oleh kemampuan memproduksi pangan, menguasai teknologi, menjaga lapangan kerja, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan daya beli masyarakat.
Azis juga menyoroti data inflasi nasional yang menunjukkan bahwa tantangan ekonomi yang paling dirasakan masyarakat saat ini berada pada sektor kebutuhan pokok.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2026, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,08 persen dan masih berada dalam rentang yang terkendali.
“Angka ini masih berada dalam rentang yang relatif terkendali dan jauh dari gambaran sebuah krisis ekonomi. Perbankan tetap stabil. Distribusi pangan berjalan. Pemerintah masih mampu menjalankan fungsi fiskalnya. Dunia usaha tetap bergerak,” jelasnya.
Meski demikian, Azis mengingatkan bahwa penyumbang terbesar inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Karena itu, ia menilai kenaikan harga berbagai komoditas pangan menjadi tantangan ekonomi yang paling dirasakan masyarakat saat ini, terutama terkait pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari.


















Discussion about this post