
Gunungsitoli – SuaraNusantara
Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap upaya pelestarian salah satu satwa langka asli Pulau Nias, yakni Burung Magiao atau biasa dikenal sebagai Beo Nias, Museum Pusaka Nias menggelar diskusi publik dengan tema “Selamatkan Magiao sebagai Pusaka Alam Pulau Nias”, Jumat (10/11/2017).
Diskusi tersebut menghadirkan narasumber diantaranya Ketua Yayasan Pusaka Nias, Pastor Johannes M Hämmerle OFMCap, dan Direktur Museum Pusaka Nias, Nata’alui Duha SPd.
Pelaksanaan diskusi ini merupakan bagian dari perayaan Hari UIang Tahun (HUT) Museum Pusaka Nias (MPN) ke-22. Hal tersebut disampaikan ketua Panitia Hut MPN, David Richardo Wong, saat menyampaikan pidato sambutannya.
“Kita ingin mengenalkan Magiao kepada seluruh masyarakat dari berbagai lapisan. Banyak kita ketahui anak-anak di Nias yang masih belum mengenal apa itu Magiao,” ujarnya.
David menambahkan, tidak semua burung beo yang diperdagangkan atau yang ada di rumah-rumah di Pulau Nias adalah burung beo asli Nias.
Diskusi ini, lanjutnya, merupakan wujud peran Museum Pusaka Nias dalam memotivasi kepedulian masyarakat terhadap satwa Magiao, sehingga masyarakat turut ambil bagian dalam upaya pelestarian Magiao.
“Kita lihat sendiri keberadaan Magiao dewasa ini cukup memprihatinkan. Harapan kita ke depannya, kita bisa melihat lebih banyak lagi burung Magiao berkeliaran di alam liar Pulau Nias,” tutupnya.
Hal senada juga dikatakan Pastor Johannes. Menurutnya, penyebab kepunahan burung Magiao ini adalah penangkapan besar-besaran yang dilakukan warga.
“Dahulu semua yang datang dan yang meninggalkan Pulau Nias ini selalu membawa Magiao. Entah untuk diperjualbelikan atau dikoleksi atau sebagai oleh-oleh. Sehingga lama-kelamaan populasi Magiao berkurang, tak terlihat lagi di alam bebas,” katanya.
Ia menceritakan, pada tahun 1886, seorang ahli Biologi asal Italia bernama Modilliani melakukan penelitian di Pulau Nias selama enam bulan terhadap burung Magiao. Dalam tulisan Modilliani dikatakan, Magiao merupakan burung beo tercerdas dan bertubuh paling besar di antara seluruh spesies burung beo yang ada di Indonesia.
Keunikan lainnya ialah, nama ‘Magiao’ hanya untuk spesies beo yang ada di Pulau Nias. Berbeda dengan spesies beo asal daerah-daerah lain di Indonesia, yang tetap menggunakan kata ‘Beo’ pada namanya.
Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan terselenggaranya diskusi publik ini.
Diskusi publik ini diikuti puluhan masyarakat dari berbagai organisasi kemasyarakatan/kepemudaan, mahasiswa, pelajar, tokoh-tokoh masyarakat/adat, dan pegawai-pegawai ASN dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Gunungsitoli.
Kontributor: Dohu Lase

















