Suaranusantara.com- Arsjad Rasjid didepak dari posisi Ketua Kadin berdasarkan hasil Munaslub pada Sabtu 14 September 2024.
Posisi Arsjad Rasjid berdasarkan hasil Munaslub Kadin digantikan oleh putra Aburizal Bakrie, Anindya Bakrie.
Penetapan Anindya Bakrie sebagai Ketua Kadin melalui Munaslub menuai polemik sebab dinilai Arsjad Rasjid tidak sah atau ilegal.
Menurut Arsjad Rasjid penetapan Anindya Bakrie sebagai Ketua Kadin telah melanggar AD/ART.
Arsjad menyatakan pihaknya tetap berpegang teguh pada AD/ART Kadin Indonesia yang berlandaskan UU No. 1 Tahun 1987 dan Keputusan Presiden (Keppres) No.18 Tahun 2022.
Khususnya dalam memimpin Kadin Indonesia sebagai satu-satunya organisasi wadah bagi dunia usaha.
“Hanya ada Satu Kadin Indonesia, yaitu Kadin Indonesia yang dasar penyelenggaraannya ditetapkan melalui Undang-Undang 1 Tahun 1987 tentang Kadin Indonesia dan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18 Tahun 2022. Oleh karena itu, segala bentuk aktivitas Kadin Indonesia, termasuk penyelenggaraan Munaslub harus tunduk dan taat kepada ketentuan UU dan mandat AD/ART,” ujar Arsjad di Jakarta, Minggu 15 September 2024.
Sebagai informasi, Arsjad Rasjid terpilih sebagai Ketua Kadin dengan periode 2021-2026 melalui proses aklamasi berdasarkan keputusan bersama pada Munas VIII Kadin Indonesia tertanggal 30 Juni 2021, di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Pada Pilpres 2024, Arsjad ditunjuk sebagai Ketua Timses Ganjar-Mahfud.
Nama Arsjad Rasjid sebelum menjadi politikus, dia dikenal sebagai pengusaha papan atas dengan sejumlah bisnis besar.
Dikenal sebagai pengusaha ternama papan atas itulah yang membuat pria bernama lengkap Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat didapuk sebagai Ketua Kadin.
Arsjad diketahui memiliki banyak perusahaan sendiri, dan namanya saat ini tercatat sebagai Presiden Direktur Indika Energi, sebuah perusahaan investasi yang banyak bergerak di bidang tambang dan pembangkit listrik
Kepemilikan Indika dikaitkan dengan Keluarga Sudwikatmono yang merupakan kerabat mantan Presiden Soeharto, di mana kini komisaris utama perusahaan tersebut saat ini dijabat Agus Lasmono, putra Sudwikatmono.
Bisa dibilang, Arsjad Rasjid sudah lama malang melintang di Indika Energi. Pengusaha yang saat ini berusia 52 tahun tersebut sebelumnya menjabat Grup CEO sejak 2005 hingga 2013, dan Wakil Presiden Direktur dari tahun 2003 hingga 2016.
Di situs resmi perusahaan, saat ini Arsjad Rasjid juga menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Tripatra Engineers & Constructors dan PT Tripatra Engineering (sejak April 2021).
Kemudian ia juga menjabat posisi strategis di PT Indika Infrastruktur Investindo (sejak Juni 2020) dan PT Indika Multi Properti (sejak Oktober 2019).
Namanya juga tercatat sebagai Komisaris PT Indika Inti Corpindo (sejak Juni 2020), PT Grab Teknologi Indonesia (sejak 2020), Kideco (sejak Februari 2017), PT Indika Energy Infrastructure (sejak Desember 2016) dan PT Rukun Raharja Tbk (sejak Juni 2014).
Berdasar laman blog pribadinya, arsjadrasjid.com, ia sudah memimpin Indika Energi sejak tahun 2005.
Di bawah kepemimpinannya, PT Indika Energy berhasil mengembangkan berbagai proyek strategis dan ekspansi bisnis, serta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya perusahaan.
Arsjad berhasil membesarkan aset PT Indika Energy Tbk sekitar 7 kali lipat dari Rp 2,78 triliun menjadi Rp 18,28 triliun dalam jangka waktu 6 tahun yaitu pada periode tahun 2005 – 2011 melalui strategi akuisisi.
Arsjad juga mengklaim memimpin Indika Energy Group dengan lebih dari 10.000 karyawan untuk melakukan turnaround dari kinerja perusahaan yang menurun karena yang terkena dampak dari penurunan harga batubara antara tahun 2013 hingga 2016 dan akhirnya, perusahaan berhasil berbalik positif.
Pada 2022 Indika Energy, melaporkan laba bersih sebesar 452,7 juta dollar dan laba inti 521,2 juta dollar AS pada tahun 2022.
Indika Energy juga meningkatkan komitmennya terhadap Environmental, Social, and Governance (ESG) dan memperkuat diversifikasi usaha di sektor non-batubara di tengah meningkatnya permintaan dan harga jual batubara global.
Pendapatan perusahaan meningkat sebesar 41,2 persen menjadi 4.334,9 juta dollar pada 2022, terutama karena harga jual batubara yang lebih tinggi.


















Discussion about this post