Suaranusantara.com- Sebanyak 5 ribu selebaran dibagikan oleh mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) ke pengguna jalan di Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis 11 Januari 2023.
Aksi bagi-bagi selebaran oleh mahasiswa UBK itu disebut bentuk kesadaran mereka melihat situasi nasional yang hari ini sangat memprihatinkan.
Aksi yang digelar sejak pukul 11.11 WIB itu untuk mengingatkan masyarakat dengan gerakan dinasti politik yang belakangan ini menyita perhatian publik.
‘Awas bahaya, jangan sampai Indonesia dikuasai tirani dinasti dan pelanggar hak asasi’ tulis dalam selebaran tersebut.
Tidak hanya itu, mereka juga tegas menolak dinasti politik hingga singgung penculik.
“Indonesia menolak dinasti politik dan penculik” katanya
Aksi itu ternyata dilakukan serentak sebanyak 899 kampus diseluruh Indonesia. Sejumlah selebaran lainnya juga disebarkan oleh mahasiswa Universitas Indonesia dengan gambar Prabowo Subianto yang bertuliskan ‘Inilah Penculik Aktivis 1998’ di kawasan Lampu Merah Salemba.
Berdasarkan pantauan, UNJ juga melakukan aksi bagi-bagi selebaran dan mimbar bebas untuk melakukan penolakan terhadap dinasti politik yang dibangun Jokowi.
Mahasiswa merasa ada kolaborasi antara Orde Baru dengan anak haram konstitusi dalam membangun politik dinasti oleh Jokowi.
Mahasiswa dalam orasinya menyampaikan bahwa politik dinasti adalah ancaman bagi demokrasi Indonesia. Saat kritik disampaikan, rezim ini justru melakukan intimidasi terhadap para penolak dinasti politik.
Dalam mimbar bebas ini, mereka juga mengingatkan kembali mengenai keterlibatan Prabowo Subianto dalam kasus penculikan dan penghilangan paksa aktivis 1998. Mahasiswa kembali mempertanyakan, siapa yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini.
“Mari mahasiswa bergerak, UNJ sudah bergerak, tolak politik dinasti,” begitu orasi mahasiwa di kampus UNJ pada Kamis, 11 Januari 2024.
“Ini sebuah aksi simbolik untuk jadi pengingat juga bagi kita semua,” ujar Apil (22) mahasiswa FIS UNJ.
Menurut April, bahwa dalam kontestasi politik hari ini ternyata masih banyak masalah-masalah besar yang harus kita jadikan pekerjaan bersama, baik di masa lampau maupun masa kini.
“Ada beberapa kampus lain seperti UIN, sama ada beberapa kampus lain juga. Beberapa kampus lain sama. Melakukan aksi yang sama, aksi simbolis semua secara damai,” ujarnya.
Selain itu April menyampaikan kritik kepada pemerintah Presiden Jokowi. Ini karena banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai kasus pelanggaran HAM masa lalu.
“Saat ini ada isu politik dinasti kemudian juga masih adanya KKN, kemudian korupsi dan koruptor yang masih dihukum ringan, kemudian harga pokok yang masih belum terjangkau,” kata April.
“Pemerintah harus segera menyelesaikan masalah-masalah yang sampai saat ini belum terselesaikan,” katanya lagi.***

















Discussion about this post