Suaranusantara.com – Rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk meluncurkan kereta petani-pedagang dari pusat produksi ke pusat niaga mendapat tanggapan dari Ketua Forum Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana.
Aditya menilai konsep tersebut bukan hal baru di Indonesia. “Pada masa Hindia Belanda hingga awal kemerdekaan, trem di Jakarta pernah membawa kereta khusus pedagang yang disebut pikoenlanwagen, yakni gerbong khusus untuk barang dagangan yang dipikul,” jelasnya.
Menurut Aditya, KAI juga pernah mengoperasikan kereta serupa ketika masih bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA).
Layanan tersebut dikenal dengan sebutan KA Pasar dan KA campuran, yakni kereta penumpang yang digabung dengan gerbong barang.
“Saat ini, layanan serupa masih tersisa di lintas Stasiun Rangkasbitung–Stasiun Tanah Abang, yang kerap digunakan petani dan pedagang untuk mengangkut komoditas pertanian serta barang dagangan,” kata Aditya.
Ia menambahkan, sebelum ada larangan membawa ternak ke dalam kereta, hewan seperti kambing dan ayam juga pernah diangkut melalui jalur tersebut. Bahkan, pada masa lalu, hewan sapi diangkut dengan kereta khusus ternak jarak jauh.
“Dulu ada gerbong khusus ternak, dan di beberapa peron stasiun disediakan fasilitas naik-turun hewan, misalnya di Stasiun Tuntang (Kabupaten Semarang). Di Jakarta, ternak sapi diturunkan di Stasiun Cipinang. Namun sekarang, gerbong dan peron khusus ternak sudah tidak ada, karena Stasiun Cipinang telah berubah menjadi Depo Kereta,” terangnya.
Aditya juga mencontohkan praktik serupa di Tiongkok. Meski negara itu sudah mengembangkan kereta cepat, mereka tetap mempertahankan kereta lambat (slow train) yang berhenti di setiap stasiun.
“Kereta lambat ini menjadi moda transportasi andalan warga pedesaan. Para petani dan pedagang boleh membawa hasil bumi serta barang dagangan mereka ke dalam kereta dengan harga tiket murah. Kereta tersebut menghubungkan desa dengan kota dan membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” jelas Aditya.

















Discussion about this post