Suaranusantara.com – Anggota DPR RI Komisi XI dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan, menilai penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir lebih dipengaruhi sentimen pasar menyusul pengumuman MSCI, bukan karena melemahnya fundamental ekonomi nasional.
Menurut Marwan, respons investor terhadap isu transparansi data kepemilikan dan free float saham yang disorot MSCI memicu tekanan jangka pendek di pasar.
Ia menegaskan, langkah MSCI berupa pembekuan sementara penyesuaian indeks dan penundaan rebalancing bersifat administratif dan membuka ruang pembenahan tata kelola pasar.
“Isu ini kerap ditafsirkan berlebihan sebagai ancaman sistemik, padahal sifatnya teknis dan administratif. MSCI tidak menjatuhkan vonis, melainkan memberikan peringatan untuk pembenahan,” ujar Marwan dalam keterangannya.
Dia menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih berada pada jalur yang relatif solid. Pertumbuhan ekonomi tetap di kisaran 5 persen, inflasi terjaga, defisit transaksi berjalan terkendali, cadangan devisa memadai, serta rasio utang terhadap PDB rendah.
“Tidak ada guncangan fundamental yang cukup kuat untuk menjelaskan koreksi IHSG sedalam ini. Karena itu, situasi saat ini harus dibaca sebagai ujian ketahanan pasar, bukan sinyal rapuhnya perekonomian,” ucap dia.
Marwan juga mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berkomitmen menindaklanjuti rekomendasi MSCI, terutama dalam meningkatkan transparansi dan memperkuat tata kelola pasar modal.
Ia mengimbau investor agar tetap menjaga perspektif jangka menengah dan panjang serta tidak terpancing kepanikan sesaat.
“Pasar tidak membutuhkan kepanikan, melainkan keyakinan yang rasional. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan komitmen reformasi berkelanjutan, pasar modal Indonesia akan semakin matang dan kredibel,” pungkas Marwan.


















Discussion about this post