Suaranusantara.com- Pameran properti Danantara Housing Expo yang diinisiasi oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang digelar selama 3 hari sejak 27-30 Agustus 2026 dilaporkan meleset jauh dari target dan proyeksi awal.
Padahal Danantara Housing Expo menargetkan mampu merealisasikan transaksi sebesar Rp 10 triliun. Namun, nyatanya selama tiga hari digelar hanya mampu mencatat Rp 2 triliun saja.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatat transaksi tertinggi dengan angka Rp 400 miliar.
Chief Operating Officer (COO) Danantara yang juga Kepala BP BUMN, Dony Oskaria tidak menampik bahwa capaian transaksi tersebut baru merealisasikan sebagian dari target masif yang dicanangkan.
Kendati demikian, Dony mengeklaim pameran yang mempertemukan ekosistem perbankan, pengembang, pabrikan material, hingga UMKM tersebut tetap dikunjungi banyak peminat.
“Sampai hari kemarin itu transaksinya sudah Rp 2 triliun yang transaksi. Artinya target kita untuk transaksi terjadi, closing itu sudah tercapai di luar daripada prospektus dan juga booking,” ujar Dony menjawab Kompas.com, pada hari terakhir pameran, Minggu 30 Agustus 2026.
Di tempat yang sama, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, menjelaskan, perolehan transaksi tersebut merupakan akumulasi dari berbagai skema pembiayaan perumahan, baik dari bank-bank Himbara (Mandiri, BRI, BNI, BTN) maupun pembiayaan komersial dan subsidi yang ditawarkan para pengembang.
Meski sukses mendatangkan kerumunan pengunjung, pelaksanaan pameran ini tak lepas dari catatan kritis dan keluhan konsumen.
Sejumlah pengunjung mengeluhkan minimnya fasilitas pendukung di area pameran, seperti kurang masifnya sosialisasi dan keterbatasan titik suplai makanan (feeder), serta frekuensi moda transportasi dari pusat kota, di tengah tingginya animo masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Maruarar menyatakan pihaknya bersama Danantara akan melakukan evaluasi menyeluruh guna memperbaiki sistem penyelenggaraan pada perhelatan serupa di masa mendatang.
“Tadi ada beberapa masukan daripada tenant maupun pengunjung mengenai ketersediaan feeder. Ini sedang kita, sebenarnya kita menyediakan feeder, tapi mungkin sosialisasi kurang masif,” kata Maruarar.
Selain masalah fasilitas pengunjung, penyelenggaraan pameran ini juga menyoroti tantangan besar dalam pemenuhan target program tiga juta rumah yang dicanangkan pemerintah.
Integrasi antara sektor perbankan, penyediaan lahan oleh pengembang, serta daya beli masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) akan terus dioptimalkan agar target penyediaan hunian layak dan terjangkau dapat tercapai secara efektif ke depannya.


















Discussion about this post