Suaranusantara.com – Aliansi Perempuan Indonesia (API) memberikan pernyataan sikap terkait tragedi kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang ikut serta dalam aksi massa dan dilindas mobil aparat.
Menurut API, peristiwa itu merupakan bagian dari wajah kekerasan negara yang sistematis, dimana aparat digunakan untuk membungkam suara rakyat dengan impunitas yang terus dibiarkan.
API mengatakan, gelombang kemarahan rakyat hari ini adalah akumulasi kemuakan atas kebijakan sembrono dan arogansi pejabat negara.
“Harga kebutuhan pokok naik, pajak semakin mencekik, barisan pengangguran terus meningkat, PHK massal, perampasan tanah adat, anak-anak korban keracunan MBG,” ucap API dalam keterangannya.
Ketika rakyat menanggung kesengsaraan yang ditimbulkan oleh negara, tambah API, bukannya menunjukkan empati, anggota DPR yang katanya perwakilan rakyat bersama para pejabat malah berpesta pora dalam kemewahan, menikmati tunjangan, fasilitas, dan gaji yang melambung tinggi.
Tidak hanya itu, DPR dan pemerintah juga memberi penghargaan kepada kerabat serta koleganya, bahkan membiarkan pejabat merangkap kursi komisaris BUMN dengan fasilitas berlimpah.
Atas dasar itu, API menyampaikan pernyataan sikapnya, diantaranya:
1. Menuntut tanggung jawab Presiden Prabowo Subianto atas kekerasan negara yang terus terjadi.
2. Mengutuk keras tindakan represif aparat dan menuntut keadilan penuh bagi korban.
3. Mendesak DPR sebagai pelayan rakyat untuk bekerja sesuai amanat konstitusi, bukan memperkaya diri dengan tunjangan dan fasilitas berlebihan.
4. Menolak program dan proyek bermasalah yang menguras APBN tanpa memberi manfaat nyata bagi rakyat.
5. Menolak impunitas dan adili para pelaku pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).
6. Menuntut pembebasan tanpa syarat terhadap massa aksi yang ditahan di seluruh Indonesia.


















Discussion about this post