Suaranusantara.com – Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), menanggapi polemik terkait proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) yang digagas pada masa pemerintahannya.
Menurut Jokowi, sebelum mempermasalahkan proyek tersebut, publik perlu memahami terlebih dahulu alasan di balik pembangunannya.
BACA JUGA : MC KTT ke 47 ASEAN Salah Sebut Nama Prabowo Jadi Jokowi, Berujung Permintaan Maaf dari Malaysia
“Kita harus tahu masalahnya dulu, di Jakarta itu kemacetannya sudah parah. Sejak 30 tahun yang lalu, dan Jabodetabek kemacetannya parah. Termasuk Bandung kemacetannya juga parah,” kata Jokowi di Solo, Senin (27/10/2025).
Dia mengatakan, kemacetan tersebut menimbulkan banyak kerugian bagi negara. Seperti di Jakarta mengalami kerugian Rp65 triliun per tahun. Jabodetabek plus Bandung kerugiannya di atas Rp100 triliun per tahun.
Untuk mengatasinya, lanjut dia, maka dirancanglah MRT, LRT, kereta cepat, dan sebelumnya KRL.
Selain itu juga ada kereta bandara agar masyarakat berpindah dari transportasi pribadi seperti mobil dan sepeda motor ke MRT, LRT, kereta cepat, KRL dan kereta bandara. Akibatnya kerugian yang terjadi selama ini dapat terkurangi dengan baik.
Lebih lanjut, Jokowi menegaskan bahwa prinsip dasar transportasi massal adalah untuk melayani publik, bukan mencari laba.
Menurut dia, transportasi massal atau transportasi umum tidak diukur dari laba, melainkan diukur dari keuntungan sosial (Social Return on Investment).
“Di situlah keuntungan sosial yang didapatkan dari pembangunan transportasi massal,” tegas Jokowi.


















Discussion about this post