Suara Nusantara
Advertisement
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
Home Nasional

Pancasila di Tengah Kebisingan Politik: Menemukan Kembali Arah Bangsa

Drt by Drt
1 June 2026
in Nasional
Reading Time: 4 mins read
A A
Johan Rosihan

Johan Rosihan

1
SHARES
12
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Johan Rosihan

Wakil Ketua Badan Penganggaran dan Sekretaris Fraksi PKSMPR-RI

Suaranusantara.com- Tanggal 1 Juni selalu mengingatkan kita pada sebuah momentum historis ketika para pendiri bangsa meletakkan fondasi filosofis bagi Indonesia merdeka. Pancasila lahir sebagai dasar negara, sekaligus juga sebagai titik temu dari keragaman gagasan, keyakinan, budaya, dan kepentingan yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. Ia merupakan hasil pergulatan intelektual dan kebangsaan yang menempatkan persatuan sebagai jalan menuju masa depan bersama.

BACAJUGA

Lestari Moerdijat: Pengamalan Pancasila dalam Keseharian Menjadi Keharusan

Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI: Kurban Adalah Investasi Karakter Generasi Muda

Namun, tujuh puluh sembilan tahun setelah pidato Bung Karno di hadapan sidang BPUPKI, kita menghadapi tantangan yang berbeda. Indonesia memang berhasil menjaga demokrasi dan stabilitas politiknya di tengah berbagai gejolak global. Akan tetapi, ruang publik kita semakin dipenuhi oleh kebisingan politik yang sering kali mengaburkan substansi persoalan bangsa.

Kebisingan politik itu hadir dalam berbagai bentuk. Ia tampak dalam pertarungan narasi yang tidak pernah berhenti di media sosial, dalam kecenderungan sebagian elite yang lebih sibuk membangun citra daripada menyelesaikan masalah rakyat, serta dalam menguatnya budaya politik yang lebih mengedepankan sensasi dibanding argumentasi. Setiap hari masyarakat disuguhi berbagai kontroversi, tetapi sering kali kehilangan ruang untuk membicarakan solusi.

Di tengah arus informasi yang begitu deras, publik semakin sulit membedakan antara fakta dan opini, antara kritik yang membangun dan serangan yang destruktif, antara kepentingan bangsa dan kepentingan kelompok. Akibatnya, energi kolektif bangsa terserap dalam perdebatan yang melelahkan tanpa menghasilkan kemajuan yang berarti.

Padahal, bangsa ini sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih mendasar. Ketahanan pangan, perubahan iklim, kesenjangan sosial, kualitas pendidikan, transformasi digital, hingga ancaman terhadap integritas lingkungan hidup memerlukan perhatian serius dan kebijakan yang berorientasi jangka panjang. Sayangnya, isu-isu strategis tersebut sering tenggelam oleh hiruk-pikuk politik sehari-hari.

Dalam konteks inilah peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi sangat relevan. Kita perlu kembali menempatkan Pancasila sebagai kompas moral dan politik bangsa. Di tengah kebisingan yang semakin keras, Indonesia membutuhkan arah yang lebih jelas. Dan arah itu telah diwariskan oleh para pendiri bangsa melalui lima sila yang hingga hari ini tetap relevan menjawab tantangan zaman.

Ketika Politik Kehilangan Kompas Moral

Demokrasi pada hakikatnya bukan sekadar mekanisme memilih pemimpin atau membentuk pemerintahan. Demokrasi juga merupakan sistem nilai yang bertumpu pada etika, tanggung jawab, dan orientasi pada kepentingan umum. Tanpa fondasi moral tersebut, demokrasi dapat berubah menjadi arena kompetisi tanpa batas yang hanya mengejar kemenangan semata.

Sayangnya, gejala yang kita saksikan belakangan menunjukkan bahwa politik sering kali kehilangan dimensi etiknya. Politik dipersempit menjadi perhitungan elektoral, strategi komunikasi, dan perebutan posisi kekuasaan. Ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar manfaat yang dirasakan rakyat, melainkan oleh seberapa efektif seseorang atau kelompok mempertahankan pengaruhnya.

Fenomena ini melahirkan berbagai bentuk pragmatisme politik. Loyalitas politik menjadi mudah berpindah mengikuti kepentingan sesaat. Perdebatan publik lebih banyak didorong oleh kepentingan pencitraan dibanding pencarian solusi. Bahkan tidak jarang prinsip-prinsip yang selama ini diperjuangkan dikorbankan demi keuntungan politik jangka pendek.

Dalam situasi seperti itu, Pancasila sesungguhnya menawarkan koreksi yang sangat mendasar. Sila pertama mengajarkan bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan kesadaran moral dan pertanggungjawaban kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kekuasaan bukan tujuan, melainkan amanah yang harus digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Sila kedua dan ketiga mengingatkan bahwa politik harus menjunjung tinggi martabat manusia dan menjaga persatuan bangsa. Tidak boleh ada kepentingan politik yang mengorbankan kemanusiaan ataupun merusak kohesi sosial. Perbedaan pilihan politik tidak boleh berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan.

Sementara sila keempat dan kelima menegaskan bahwa tujuan akhir dari seluruh proses politik adalah menghadirkan kebijaksanaan dan keadilan sosial. Politik yang menjauh dari tujuan tersebut pada akhirnya akan kehilangan legitimasi moralnya. Karena itu, revitalisasi Pancasila pada dasarnya adalah upaya mengembalikan politik kepada tujuan mulianya sebagai sarana melayani rakyat.

Pancasila dan Tantangan Bangsa Hari Ini

Tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa-masa sebelumnya. Dunia sedang mengalami perubahan besar yang ditandai oleh rivalitas geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, krisis iklim, serta perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Semua itu membawa konsekuensi yang tidak sederhana bagi masa depan bangsa.

Dalam bidang pangan, misalnya, berbagai konflik internasional telah menunjukkan betapa rentannya ketergantungan pada pasokan global. Banyak negara mulai menempatkan pangan sebagai instrumen strategis yang terkait langsung dengan kedaulatan nasional. Situasi ini menuntut Indonesia untuk memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Di sinilah sila kelima menemukan relevansinya. Keadilan sosial tidak hanya berbicara tentang distribusi hasil pembangunan, tetapi juga tentang akses yang adil terhadap sumber-sumber kehidupan. Petani, nelayan, peternak, dan masyarakat pedesaan harus memperoleh perlindungan dan keberpihakan yang memadai agar mampu menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.

Tantangan lain muncul dari perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Banjir, longsor, kekeringan, dan berbagai bencana ekologis semakin sering terjadi. Jika tidak ditangani dengan serius, kondisi ini akan mengancam keberlanjutan pembangunan dan kesejahteraan generasi mendatang. Pancasila mengajarkan bahwa pembangunan harus dilaksanakan dengan memperhatikan keseimbangan antara manusia dan alam.

Di bidang sosial, perkembangan teknologi digital membawa manfaat sekaligus tantangan. Informasi yang melimpah dapat memperluas pengetahuan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi sarana penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi. Dalam konteks ini, nilai kemanusiaan dan persatuan yang terkandung dalam Pancasila menjadi semakin penting untuk dijadikan pedoman.

Karena itu, Pancasila tidak boleh dipahami sebagai dokumen sejarah yang selesai dibicarakan. Pancasila harus terus dihidupkan sebagai sumber inspirasi dalam merumuskan kebijakan publik, menyelesaikan konflik sosial, dan menghadapi berbagai tantangan baru yang muncul seiring perkembangan zaman.

Menjadikan Pancasila Sebagai Pedoman Aksi

Persoalan terbesar bangsa ini bukanlah kurangnya pemahaman tentang Pancasila. Hampir seluruh warga negara mengenal lima sila tersebut sejak bangku sekolah. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam tindakan nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila tidak akan memiliki makna jika hanya berhenti sebagai hafalan atau slogan. Ia harus hadir dalam proses penyusunan kebijakan, dalam pengelolaan anggaran negara, dalam penegakan hukum, dalam penyelenggaraan pendidikan, dan dalam seluruh praktik kehidupan publik. Ukuran keberhasilan Pancasila bukan terletak pada seberapa sering ia disebut, melainkan seberapa jauh ia diwujudkan.

Bagi para pemimpin, mengamalkan Pancasila berarti menjadikan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama setiap keputusan. Bagi para politisi, berarti mengedepankan etika dan tanggung jawab publik di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Bagi aparatur negara, berarti menghadirkan pelayanan yang adil dan profesional kepada seluruh warga negara.

Bagi masyarakat, mengamalkan Pancasila berarti menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, menghormati hukum, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Pancasila tidak hanya menjadi tanggung jawab negara, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa.

Hari ini Indonesia membutuhkan lebih banyak teladan daripada slogan. Kita membutuhkan lebih banyak kerja nyata daripada retorika. Kita membutuhkan lebih banyak kebijaksanaan daripada kebisingan. Sebab masa depan bangsa tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara, tetapi oleh siapa yang paling sungguh-sungguh bekerja untuk kepentingan rakyat.

Pada akhirnya, kekuatan Pancasila terletak pada kemampuannya menyatukan perbedaan menjadi energi pembangunan. Ketika seluruh elemen bangsa kembali menjadikan Pancasila sebagai pedoman tindakan, maka kebisingan politik yang selama ini menyita perhatian akan berubah menjadi dialog kebangsaan yang produktif dan berorientasi pada kemajuan bersama.

Menyalakan Kembali Kompas Kebangsaan

Hari Lahir Pancasila selain peringatan atas sebuah peristiwa sejarah. Ia adalah momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi ketuhanan, persatuan, keadilan, kemanusiaan dan demokrasi. Nilai-nilai itulah yang selama ini menjaga Indonesia tetap berdiri kokoh di tengah berbagai ujian zaman.

Di tengah kebisingan politik yang kerap memecah perhatian dan menguras energi bangsa, sudah saatnya kita kembali mendengarkan suara kebijaksanaan yang terkandung dalam Pancasila. Sudah saatnya kita mengembalikan politik kepada tujuan luhurnya, yaitu menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sudah saatnya kita menjadikan Pancasila bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai arah dan pedoman dalam setiap langkah pembangunan bangsa.

Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Semoga di tengah segala kebisingan politik yang mengelilingi kehidupan kita, bangsa Indonesia tetap mampu menjaga kejernihan akal, kejernihan hati, dan kejernihan arah. Semoga Pancasila senantiasa menjadi kompas yang menuntun perjalanan Indonesia menuju bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, makmur, dan bermartabat di hadapan dunia.

Tags: 1 JuniHar Lahir PancasilaJohan RosihanPancasila
ADVERTISEMENT

BERITA Lainnya

Diduga Tabrak Lari, Pengemudi Honda Brio Diamuk Massa di Bekasi
Nasional

Diduga Tabrak Lari, Pengemudi Honda Brio Diamuk Massa di Bekasi

by snc4
1 June 2026

Suaranusantara.com- Sebuah mobil Honda Brio merah bernomor polisi B...

Nasional

Prabowo Dorong Pengamalan Pancasila untuk Wujudkan Indonesia Makmur

by Fifi
1 June 2026

Suaranusantara.com - Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh masyarakat Indonesia...

Menhan Sjafire Sjamsoeddin saat konferensi pers membahas soal geopolitik dan geoekonomi bersama Panglima TNI dan Komisi I DPR RI

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Kenang Ryamizard Ryacudu sebagai Prajurit Teladan bagi TNI

1 June 2026

Siapkan Transformasi Bangsa, Prabowo: Harus Berani Ambil Keputusan yang Benar

1 June 2026
Lestari Moerdijat: Generasi Muda Harus Mampu Memahami Diri Sebelum Menjadi Pemimpin

Lestari Moerdijat: Generasi Muda Harus Mampu Memahami Diri Sebelum Menjadi Pemimpin

1 June 2026
Anggota MPR RI: LKBB-PB Momentum Untuk Menunjukkan Nasionalisme

Anggota MPR RI: LKBB-PB Momentum Untuk Menunjukkan Nasionalisme

1 June 2026

Discussion about this post

POPULER MINGGU INI

Presiden ke 7 RI Joko Widodo atau Jokowi dikabarkan jadi Dewan Pembina PSI (instagram @yusufmuhammad)

Lama Tak Terlihat, Begini Kondisi Terbaru Jokowi

11 months ago
Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira (Instagram @andreaspareira)

Prabowo Akan Tertibkan Pengamat Tak Suka Pemerintahannya, PDI Perjuangan: Ini Risiko Rakyat yang Telah Memilih

3 months ago
Rupiah Melemah, Dolar AS Kuat (Dok ilustrasi)

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Menjelang RDG BI

3 months ago
Komisi III DPR RI Soroti Serangan Air Keras terhadap Aktivis HAM Andrie Yunus

Komisi III DPR RI Soroti Serangan Air Keras terhadap Aktivis HAM Andrie Yunus

3 months ago
Ilustrasi harga emas mulai dari Antam mengalami kenaikan (instagram @sukabumikuid)

Harga Emas Antam Kembali Melemah Buyback Ikut Turun

3 months ago

TOPIK: PEMILU 2024

PDIP Menang Pemilu Tiga Kali Beruntun, Tapi Citra Publik Menurun?

Rekomendasi Rakernas V PDI Perjuangan: Penyalahgunaan Kekuasaan Jadi Biang Kerok Pemilu 2024 Terburuk Sepanjang Sejarah Indonesia

Ketua KPU RI di Laporkan ke DKPP; Lakukan Pelanggaran Kode Etik dengan Cara Merayu sampai Buat Asusila

Djarot Sebut PDIP Akan Layangkan Gugatan Pemilu 2024 ke PTUN

450 ASN di Laporkan ke Bawaslu Atas Dugaan Pelanggaran Netralitas Pemilu 2024

PILIHAN EDITOR

Andreas Hugo Pareira Minta Revisi UU HAM Tetap Jaga Kemandirian Komnas HAM

Pertahankan Hasil Disertasinya, Marinus Gea Tegaskan ESG Bukan Beban, tapi Sumber Nilai Perusahaan

Bocoran Terbaru Samsung Galaxy S26 Ultra: Pengisian Daya Lebih Cepat, Lebih Cerdas?

Soal Kasus Pandji, Marinus Gea: Demokrasi Tak Boleh Kalah oleh Rasa Tersinggung

Marinus Gea Tanggapi Temuan KPAI: Dugaan Pelecehan oleh Polisi Harus Diusut Tuntas

BERITA TERKINI

Josko Gvardiol
Olahraga

Josko Gvardiol Akhirnya Angkat Bicara Soal Rumor Tinggalkan Manchester City!

by snc 14
1 June 2026

Suaranusantara.com - Salah satu nama yang paling gencar diterpa isu miring adalah bek tangguh Manchester City, Josko...

Wakil PM Qatar Temui Prabowo di Istana, Bawa Pesan Khusus dari Emir

1 June 2026
Johan Rosihan

Pancasila di Tengah Kebisingan Politik: Menemukan Kembali Arah Bangsa

1 June 2026

Hari Lahir Pancasila, Menteri PANRB Minta ASN Jadikan Pancasila Nilai Hidup

1 June 2026

Sebanyak 41.534 Penumpang Kereta Tiba di Jakarta Usai Libur Iduladha 1447 H

1 June 2026
Load More

Subscribe to our newsletter

Footer-Suara-Nusantara-Logo

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

  • Disclaimer
  • Karier
  • Kode Etik
  • Info Iklan
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
  • UU Pers

PLATFORM LAINNYA

  • marinus gea
  • storia studio
  • marinus-gea-logo
  • morege

IKUTI KAMI

© 2022 Suara Nusantara. All rights reserved.

 

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Login
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

©2025 SuaraNusantara.com