Suaranusantara.com- Presiden Prabowo Subianto namanya tercantum dalam makalah ilmiah yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Padahal makalah ini sebelumnya telah diunggah sejak 31 Maret 2026 ke platform Social Science Research Network (SSRN).
Namun, makalah ini menuai sorotan usai diunggah ke media sosial pada Rabu 5 Agustus 2026 oleh akun X @TxtdariiUGM.
“Nemu paper salah satu authornya @prabowo, papernya sebagai ajuan Program MBG untuk diajukan dalam Nobel Perdamaian 2026,” tulis akun tersebut.
Dalam makalah itu, nama Prabowo tercantum sebagai penulis atau author. Bahkan makalah ilmiah ini disebut-sebut bakal diajukan untuk Nobel Perdamaian.
Adapun makalah berisikan 69 halaman memiliki judul “Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth.”
Mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budhyarto mengatakan pihaknya sudah mencari tahu ke beberapa sumber terkait makalah ilmiah itu. Dan hasilnya, Prabowo sama sekali tidak mengetahui terkait makalah.
Tak hanya itu, Prabowo juga tidak memberi izin untuk namanya digunakan dalam makalah itu.
“Saya sudah cek langsung ke beberapa sumber. Presiden tidak tahu-menahu, tidak memerintahkan, tidak memberi izin, apalagi menyetujui pembuatan  paper agar ‘dapat Nobel’,” tulis Dede melalui akun X miliknya, dikutip Rabu 5 Agustua 2026.
Menurut Dede, paper tersebut diduga dibuat oleh pihak tertentu tanpa sepengetahuan Presiden.
“Paper-paper itu dibuat oleh orang-orang yang kemungkinan ‘cari muka’. Kalau berhasil, minimal dapat nama atau jabatan,” ujarnya.
Ia juga mengemukakan kemungkinan lain, yakni paper tersebut sengaja dibuat untuk merusak citra Presiden.
“Sayangnya sudah kebongkar. Atau bisa juga ini sengaja dibuat untuk mendegradasi Presiden: paper dikirim seolah-olah atas nama beliau, lalu dibocorkan ke media sosial agar citranya jelek,” lanjutnya.
Dede menyebut pola tersebut mirip dengan isu survei tandingan yang sempat ramai beberapa waktu lalu.
“Mirip pola survei tandingan yang beberapa hari lalu juga sempat viral,” katanya.
Karena itu, ia meminta akun X @TxtdariiUGM yang pertama kali mengunggah informasi mengenai paper tersebut agar tidak terburu-buru menyebarkan informasi tanpa memastikan konteksnya.
Di sisi lain, Dede menegaskan bahwa mekanisme nominasi Nobel Perdamaian memiliki prosedur yang ketat dan bersifat rahasia. Menurutnya, publikasi paper di SSRN tidak dapat dianggap sebagai pengajuan resmi Nobel Perdamaian.
“Apalagi yang masih ketinggalan prompt AI-nya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa SSRN merupakan platform working paper atau preprint, bukan jurnal ilmiah peer-reviewed. Karena itu, dokumen yang diunggah di SSRN bukan merupakan mekanisme resmi untuk mengajukan nominasi Nobel.
“Mekanisme nominasi Nobel Perdamaian sebenarnya ketat. Hanya pihak yang berwenang, seperti anggota parlemen atau pemerintah, kepala negara, serta profesor tertentu di bidang relevan, yang dapat mengajukan nominasi resmi kepada Norwegian Nobel Committee. Nominasi juga bersifat rahasia selama 50 tahun,” jelasnya.
Dede menambahkan, paper yang diunggah di SSRN maupun platform publik lainnya tidak otomatis menjadi nominasi yang sah. Menurutnya, seseorang juga tidak dapat mengajukan dirinya sendiri (self-nomination) sebagai kandidat Nobel Perdamaian.
“Jangan sampai Anda menggiring opini oleh isu remeh yang jelas-jelas bukan program resmi. Fokus saja mengkritik kerja pemerintahan yang sedang berjalan,” pungkasnya.
Sebelumnya, unggahan ini bukan hanya menyoroti soal tercantum nama Prabowo melainkan dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan paper, termasuk adanya desain yang diduga dibuat menggunakan AI dan sisa prompt yang disebut belum dihapus.
Akun tersebut bahkan mengklaim hasil pemeriksaan menggunakan AI detector menunjukkan tingkat deteksi hingga 93 persen.
Selain nama Prabowo, dalam makalah itu tercantum nama-nama lain yang merupakan dosen di sejumlah kampus di Tanah Air di antaranya Prof. Dr. Dian Damayanti (European Alliance for Innovation dan Universitas Borobudur Jakarta), Ashar Sunarso (Institut Pemerintahan Dalam Negeri).
Kemudian Norhidayah Azman (Management and Science University), Iwan Iwan (Universitas Negeri Jakarta), Prof. Dr. Ir. Gimbal Doloksaribu (Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta).
Lalu Prof. Dr. Cicih Ratnasih (Universitas Borobudur Jakarta), Mansuri (Universitas Borobudur Jakarta), dan Dr. Sugiyanto Saleh (Universitas Borobudur Jakarta).


















Discussion about this post