Suaranusantara.com- Memperingati Hari Lahir Pancasila, Dewan Pimpinan Provinsi Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (PERADAH) DKI Jakarta gelar Lokakarya Pancasila bertemakan Bung Karno dan Peradaban Nusantara. Kegiatan ini diselenggarakan di Dharma Sevanam Pura Aditya Jaya Rawamangun, Minggu (17/06)
Hadir sebagai pemateri Bapak Amos Sury’el Tauruy, S.Sos., M.AP (Penelaah Teknis Kebijakan Badan Ideologi Pancasila), Ibu Anak Agung Sri Nandini (Koreografer Tari Legong Maha Saraswati) dan Bapak Wahyu Yoga Pradana, S.Sos (Penyuluh Agana Hindu Jakarta Timur) sebagai moderator.
Dijelaskan oleh Amos mengenai dinamika geopolitik saat ini dan pentingnya generasi muda memahami situasi kebangsaan saat ini. Nilai-nilai luhur Pancasila bukan hanya sekedar menjadi hiasan atau hafalan. Tetapi, generasi muda sekarang harus bisa lebih kritis memahami apa esensi dari Pancasila itu yang menjadi kesepakatan para pendiri bangsa.
“Setiap sila dari Pancasila itu merupakan satu kesatuan. Toleransi yang kita kenal itu merupakan perwujudan dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Spirit kebersamaan itu harus kita jaga untuk mewujudkan yang namanya Indonesia Raya”, ungkap putra daerah asal Papua ini.
Kedekatan Sukarno, sang proklamator terhadap budaya Nusantara juga disampaikan oleh seniman muda asal Bali yang akrab disapa Gung Sri. Menurutnya, darah seni yang dimiliki oleh sang Proklamator tidak bisa lepas dari asal usul keluarga Bung Karno yang berasal dari Bali juga.
“Ibunda Sukarno itu penari asal Buleleng, Bali.Tentu bakat seni yang dimiliki Bung Karno tidak bisa lepas dari itu. Oleh karena keragaman budaya bangsa kita ini, tentu menjadi daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki bangsa lain. Menurut saya, generasi sekarang perlu melestarikan seni budaya Nusantara agar Indonesia tetap jaya”, ujar Gung Sri.
Sebagai pihak penyelenggara, Bryan Pasek Mahararta selaku Ketua DPP Peradah DKI Jakarta menyebutkan kegiatan ini sebagai bentuk komitmen pemuda untuk memperkuat semangat persatuan bangsa. Ke depan, Peradah Jakarta bermaksud menggelar pagelaran budaya Nusantara yang lebih besar lagi agar bisa berdampak kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurutnya, banyak hal yang menjadi perhatian bagi generasi muda terkait dengan tantangan zaman. Pesatnya perkembangab teknologi informasi bisa berdampak buruk jika banyak terjadi penyimpangan sejarah. Terlebih budaya lokal yang kurang mendapat perhatian untuk dilestarikan maupun dikembangkan oleh generasi muda.
“Lokakarya ini menjadi pintu awal bagi kami untuk mempertemukan para talenta muda yang berkomitmen melestarikan budaya Nusantara”, tutupnya.


















Discussion about this post