Suaranusantara.com – Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, baru-baru ini mengeluarkan imbauan kepada para produsen otomotif untuk memindahkan manufaktur kendaraan D-Cab atau double cabin dari Thailand ke Indonesia.
Imbauan ini didasari oleh pertimbangan ukuran ekonomi Indonesia yang lebih besar, pertumbuhan konsisten dalam PMI Manufaktur selama 30 bulan berturut-turut, serta kontribusi Manufacturing Value Added (MVA) global Indonesia yang menempati posisi sepuluh besar.
PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) dan PT Toyota Astra Motor (TAM) memberikan tanggapan terhadap imbauan tersebut.
Attias Asril, Kepala Operasional Bisnis & Strategi PT IAMI, menyatakan bahwa pemerintah perlu memberikan insentif yang tepat agar relokasi manufaktur kendaraan D-Cab dapat terwujud.
Menurutnya, tanpa insentif yang memadai, memindahkan seluruh pabrik mungkin akan menjadi beban yang berat.
Anton Jimmy, Direktur Pemasaran PT TAM, menjelaskan mengapa kendaraan double cabin masih diimpor di Indonesia.
Meskipun Indonesia kuat dalam kendaraan jenis 3-row seater seperti Calya, Avanza, dan Innova, pasar mobil D-Cab terbesar saat ini dikuasai oleh Thailand dan Amerika Serikat.
Thailand sendiri memiliki pangsa pasar D-Cab hingga melampaui 50 persen, dengan penjualan sekitar 400 ribu unit.
Anton menekankan pentingnya mempertahankan kendaraan yang sudah ada di Indonesia, termasuk kendaraan hibrida.
Isuzu dan Toyota sepakat bahwa lokalisasi produksi adalah tujuan yang diinginkan, namun realitas Indonesia sebagai negara dengan fokus pada kendaraan 3-row seater harus tetap diperhatikan.
Sementara pabrik D-Cab mungkin tidak dipindahkan secara keseluruhan, upaya untuk meningkatkan produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor tetap menjadi prioritas.


















Discussion about this post