SuaraNusantara.com-Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti, menyuarakan kritik terhadap Prabowo Subianto, menyatakan bahwa Prabowo bukanlah sosok yang bersikap kesatria setelah mengeluarkan komentar kontroversial mengenai etik ndasmu. Dalam sebuah acara internal partai, Prabowo disebut menyampaikan pisuhan terkait etika kepada capres nomor urut satu, Anies Baswedan.
Ray Rangkuti menilai tindakan Prabowo sebagai sikap yang tidak kesatria karena menolak membahas pernyataan Anies di luar forum yang telah disediakan, khususnya dalam konteks debat kandidat. Kritik tersebut disampaikan Ray kepada awak media pada hari Minggu 17 Desember 2023.
Kontroversi muncul setelah Anies Baswedan dalam debat kandidat Pilpres 2024 pada Selasa 12 Desember 2023 menanyakan pendapat Prabowo mengenai putusan Mahkamah Konstitusi terkait pelanggaran etik. Prabowo kemudian menyampaikan pisuhan terkait etik ndasmu dalam forum internal partai, di luar momen debat.
Ray Rangkuti menyayangkan sikap Prabowo yang dinilainya tidak bersifat kesatria, terutama karena Prabowo lebih memilih mengolok-olok isu etik tanpa membahasnya secara substansial. Menurutnya, perilaku tersebut menunjukkan kurangnya kesatriaannya.
“Waktu mengolok-olok personal, bukan argumen, di belakang panggung, itu memperlihatkan sikap tidak kesatria itu,” ungkap Ray.
Meskipun Prabowo dianggap memiliki peluang besar dalam Pilpres 2024, Ray menyatakan kekecewaannya terhadap pernyataan Prabowo mengenai etik ndasmu. Dia menyebutkan bahwa beberapa politikus di Indonesia tidak memahami atau menganggap rendah moralitas dalam konteks demokrasi.
Baca Juga: Begini Pembelaan Gerindra Soal Prabowo ‘Ndasmu Etik’
“Tentu sangat disayangkan sikap atau perilaku seperti ini muncul dari seorang calon presiden yang disebut-sebut lembaga survei sebagai calon pemenang bahkan dalam satu putaran,” ujar Ray Rangkuti.
Pengamat politik ini menambahkan bahwa sebagian politikus di Indonesia memandang demokrasi sebagai seperangkat aturan tanpa memandang aspek moralitas. Mereka dianggap sebagai penganut demokrasi minimalis yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan publik.
“Sebagian politikus melihat demokrasi sebagai seperangkat aturan dan tidak mau memandang sisi moral. Mereka yang menganut paham demokrasi minimalis umumnya hanya berpikir tentang dirinya,” jelasnya.


















Discussion about this post