Suaranusantara.com- Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Sabtu 7 Juni 2025 lalu terbang ke Papua guna meninjau langsung lokasi tambang nikel di wilayah wisata ikonik Raja Ampat.
Dalam tinjauannya di Raja Ampat, Bahlil bertemu dengan para warga di sana. Mereka para warga mendesak untuk tambang nikel di Pulau GAG dilanjutkan.
Adapun tambang nikel di Raja Ampat dikelola oleh anak perusahaan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk, PT GAG Nikel.
Kementerian ESDM melalui pernyataan resmi di laman websitenya menyatakan bahwa warga di Pulau GAG mendesak Bahlil agar melanjutkan pemberian izin aktivitas pertambangan nikel di kawasan Raja Ampat.
Hal itu terlihat dalam artikel berjudul “Ditemui Menteri Bahlil, Masyarakat Pulau Gag Minta Penambangan Nikel Dilanjutkan” di situs Kementerian ESDM, disebutkan permintaan itu terjadi saat Bahlil bertemu dan berbincang langsung dengan warga di Pulau Gag akhir pekan lalu.
Dalam situs tersebut tertulis bahwa warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan mengaku mendapat keuntungan dari hasil tangkapan ke PT GAG Nikel.
“Warga yang dominan merupakan nelayan, menyebutkan mereka mendapatkan keuntungan dengan menjual hasil tangkapannya ke perusahaan PT Gag Nikel,” sebagaimana tertulis di website Kementerian ESDM, Senin 9 Juni 2025.
Kementerian ESDM juga mengutip pernyataan salah satu warga yang disebut bernama Fathah Abanovo, berusia 33 tahun.
Fathah diklaim telah menyatakan aktivitas penangkapan ikan berjalan seperti biasa, air tetap jernih, kualitas air juga bagus meski ada aktivitas pertambangan nikel di Raja Ampat.
“Menurutnya, pihak perusahaan juga membantu mereka membeli BBM dan alat pancing untuk bekerja,” kata Kementerian ESDM.
Kementerian itu juga mencatat pernyataan seorang warga bernama Lukman Harun, berusia 34 tahun yang merupakan warga Pelugak berprofesi sebagai nelayan.
Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa berita yang menyebutkan kualitas dan warna air sekitar pantai menyebabkan hasil tangkapan menurun, adalah tidak benar.
Kementerian ESDM menuliskan bahwa Lukman telah menyatakan air tidak berubah sejak puluhan tahun lalu hingga kini.
Lalu, ia juga disebut telah menyatakan bahwa dengan adanya tambang nikel, ikan-ikan karang sebagai tangkapan tidak berubah dan aman saat dikonsumsi.
Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu juga disebut merasa masyarakat sekitar tambang menunjukkan dukungan agar aktifitas pertambangan dapat dilanjutkan karena terbukti memberikan manfaat bagi mereka baik secara langsung maupun tidak.
Bupati Raja Ampat Orideko Iriano Burdam ikut disebut memberikan pernyataan bahwa gambaran raja ampat rusak akibat tambang nikel, sebagaimana yang viral di media sosial, tidak terbukti ketika dilihat secara langsung.
Namun ia meminta agar pengawasan ditingkatkan terutama terkait analisis dampak lingkungan supaya lebih bagus lagi kedepan.
Diketahui pada Kamis 5 Juni 2025 lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menghentikan sementara kegiatan operasi salah satu perusahaan tambang nikel di kawasan Raja Ampat, yakni PT GAG Nikel.
Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti pengaduan masyarakat terkait dampak pertambangan terhadap kawasan wisata di Raja Ampat.
PT GAG Nikel yang beroperasi di Pulau Gag, merupakan pemegang Kontrak Karya Generasi VII No. B53/Pres/I/1998.
Perusahaan itu resmi berdiri pada 19 Januari 1998 setelah ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia.
Sejak 2008, PT ANTAM Tbk. berhasil mengakuisisi seluruh saham APN Pty. Ltd., sehingga kendali penuh PT GAG Nikel saat ini berada di tangan PT ANTAM Tbk

















Discussion about this post