Suaranusantara.com- Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terus menjadi sorotan publik terutama menu-menu yang dihadirkan untuk dikonsumsi anak-anak sekolah di Tanah Air.
Susu dalam MBG menjadi perdebatan publik lantaran dinilai hanya memiliki kandungan susu sekitar tiga puluh persen (30%).
Hal itu sebelumnya disampaikan oleh Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu, Fakultas Peternakan IPB, Epi Taufik yang menjelaskan polemik kandungan susu segar hanya 30% di susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Seharusnya, kandungan susu segar seharusnya 100%. Epi menjelaskan bahwa pada dasarnya susu sapi segar mengandung 88% air, dan 12% bahan kering yang terdiri dari lemak, protein, laktosa/karbohidrat, dan mineral
“Susu sapi segar, terutama yang saat ini mayoritas berasal dari sapi Frisian Holstein (FH), juga susu kambing, dan bahkan ASI (Air Susu Ibu), kandungan utamanya adalah air,” kata Epi dalam keterangan, Minggu 12 Oktober 2025.
Kendati demikian, pria yang juga bertugas sebagai Tim Pakar Bidang Susu Badan Gizi Nasional (BGN) itu menjelaskan bahwa susu dalam MBG bukanlah keputusan spontan, melainkan hasil dari kajian ilmiah dan kebijakan berbasis bukti.
Epi menyampaikan dalam semua panduan makan (dietary guidance) di beberapa negara seperti Malaysia, Jepang, China, termasuk panduan gizi seimbang yang dikenal dengan IsiPiringku dari Kemenkes RI dan prinsip B2SA (beragam, bergizi, seimbang dan aman) dari Bapanas RI, semuanya memasukkan susu (dairy) sebagai bagian dari pedoman-pedoman tersebut.
Kata Epi, susu sendiri merupakan paket gizi lengkap yang dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan tulang dan otak anak.
“Susu merupakan paket gizi lengkap yang mengandung 13 zat gizi esensial, seperti protein, kalsium, dan vitamin D. Kandungan ini sangat penting bagi anak usia sekolah untuk mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, dan imunitas tubuh,” jelas Tim Pakar Bidang Susu BGN), Epi Taufik dikutip dari siaran pers, Minggu.
Menurut dia, masa usia 9–12 tahun adalah periode peak growth velocity, di mana anak-anak mengalami percepatan pertumbuhan tinggi badan dan peningkatan kebutuhan energi. Sehingga, menu susu dapat membantu menambah kalsium bagi anak-anak.
“Kandungan kalsium dari makanan harian biasanya baru memenuhi 7–12 persen dari kebutuhan harian. Tambahan dari susu membantu menutup kekurangan itu agar pertumbuhan anak optimal” tuturnya.
Senada dengan Epi, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati menjelaskan bahwa MBG tidak hanya berdampak pada gizi anak, tapi juga memberikan efek ekonomi berantai.
Susu dalam MBG bukan cuma menyehatkan anak-anak melainkan juga membuka pasar luas bagi peternak rakyat di seluruh Indonesia.
“Susu dalam MBG bukan hanya menyehatkan anak-anak, tapi juga menghidupkan ekonomi desa. Peternak lokal kini memiliki pasar yang stabil dan berkelanjutan,” ujarnya.
Hida mengatakan BGN terus memastikan pelaksanaan MBG dijalankan dengan prinsip gizi seimbang, transparansi, dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Selain mendukung penurunan angka stunting, MBG juga diharapkan menumbuhkan kesadaran pentingnya pola makan sehat berbasis pangan lokal.
“Susu dalam MBG adalah simbol sederhana dari perubahan besar: dari kebijakan gizi menjadi gerakan nasional untuk mencerdaskan bangsa,” ucap Hida


















Discussion about this post