Suaranusantara.com – Praktisi Kesehatan Masyarakat sekaligus Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Tamansari, dr. Ngabila Salama, mengungkapkan bahwa polusi udara berperan besar dalam memperberat gejala flu dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Bahkan, kondisi tersebut kerap membuat keluhan yang dirasakan pasien jauh lebih berat hingga oleh masyarakat awam disebut sebagai “super flu”.
Dr. Ngabila menjelaskan, istilah “super flu” memang bukan diagnosis medis resmi. Namun secara klinis, kondisi ini masuk akal karena paparan polusi udara yang tinggi dapat memperparah infeksi saluran pernapasan yang sedang dialami seseorang.
Menurut dr. Ngabila, polusi udara terutama partikel halus dan gas berbahaya seperti PM2.5, PM10, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan ozon (O₃), secara langsung menyerang sistem pernapasan. Partikel halus PM2.5 bahkan dapat masuk hingga ke alveoli atau kantung udara paru-paru. Sementara itu, gas iritan dapat merusak lapisan epitel saluran napas, membuat mukosa menjadi kering, meradang, dan rapuh.
Dia menilai, kondisi tersebut berdampak pada melemahnya pertahanan alami saluran pernapasan.
“Polusi membuat semuanya lumpuh atau melemah,” kata dr Ngabila dalam keterangannya, Senin (5/1/2025).
Akibatnya, ketika seseorang terinfeksi virus influenza atau virus ISPA lainnya lalu terpapar polusi udara, terjadi apa yang disebut sebagai “double hit”.
Pertama, virus menjadi lebih mudah berkembang karena lapisan saluran napas sudah rusak, sehingga virus lebih cepat menempel, bereplikasi lebih banyak, dan memperpanjang masa sakit.
Kedua, polusi udara memicu peradangan kronis, sementara infeksi virus menyebabkan peradangan akut. Kombinasi keduanya membuat respons peradangan menjadi berlebihan. Sitokin meningkat tajam, saluran napas mengalami pembengkakan lebih berat, dan produksi lendir menjadi berlebihan.
“Kondisi inilah yang menyebabkan batuk semakin keras, sesak napas lebih berat, demam lebih tinggi dan berlangsung lebih lama, serta badan terasa sangat lemas disertai nyeri hebat,” jelas dr. Ngabila.
Gejala-gejala tersebut kemudian dikenal masyarakat sebagai “super flu”, meski secara medis merupakan flu atau ISPA yang diperparah oleh paparan polusi udara.


















Discussion about this post