
Jakarta-SuaraNusantara
Pemerintah meminta agar semua pihak mewaspadai munculnya paham radikalisme dan terorisme dari kelompok teroris ISIS, menyusul kabar kepulangan 17 orang Warga Negara Indonesia dari Suriah.
“Ya, memang sebenarnya negara kalo mau ekstrim, bisa menolak mereka pulang. Tapi kan tidak begitu juga. Tapi ini harus diwaspadai,” kata Tjahjo saat menghadiri Undangan Diskusi GK Center bertema ‘Dinamika Politik dan UU Pemilu’ di Hotel Century Park Senayan, Jakarta, beberapa saat lalu.
Upaya untuk mewaspadai mereka perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran paham radikalisme yang diperoleh dari ISIS. Karena itu, Tjahjo menginstruksikan bupati/wali kota, hingga camat di wilayah setempat untuk memantau intensif tempat tinggal dan aktivitas mereka sekembalinya ke Indonesia.
“Saya minta kepada bupati/wali kota dan camat, jemput mereka. Pastikan mereka pulang ke daerahnya, dan alamatnya dimana, supaya dia bisa termonitor perkembangan selanjutnya, itu saja,” ujar dia.
Bukan hanya itu, ia juga meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terlibat aktif dalam pemantauan aktivitas para WNI simpatisan ISIS tersebut. Harus ada peninjauan atas paham para WNI ini. Maka itu, peranan BNPT adalah untuk melakukan deradikalisasi terhadap mereka secara tepat.
“Begitu pulang langsung didoktrin dulu. Mereka dulu pergi dicuci otak. Mereka pulang ya kita cuci otaknya lagi,” kata Tjahjo.
Penulis: Yon K
















