Suaranusantara.com- Dalam Sidang Kabinet Paripurna (SKP) yang berlangsung di Istana Garuda, Ibu Kota Nusantara, Presiden Jokowi menegaskan pentingnya antisipasi terhadap penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dialami Indonesia.
Pada pertemuan yang digelar di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Senin (12/08/2024), Jokowi menginstruksikan para menteri untuk segera mencari penyebab melemahnya PMI.
Jokowi mencatat bahwa setelah menunjukkan tren ekspansi selama beberapa bulan terakhir, PMI Indonesia justru memasuki fase kontraksi pada Juli 2024.
Baca Juga:Â Jokowi Sebut Kirab Bendera dan Teks Proklamasi dari Jakarta ke IKN ialah Momen Bersejarah
Jokowi mengingatkan bahwa tren penurunan ini telah berlangsung selama empat bulan terakhir, sehingga diperlukan analisis mendalam terkait faktor yang menyebabkan melemahnya permintaan domestik.
Sebagai langkah awal, Presiden meminta jajarannya untuk fokus pada penguatan ekonomi domestik guna mencegah dampak yang lebih besar di masa mendatang.
“Saya ingin dicari betul penyebab utamanya dan segera diantisipasi karena penurunan PMI ini saya lihat sudah terjadi sejak empat bulan terakhir. Betul-betul dilihat kenapa permintaan domestik melemah,” tegas Presiden.
Presiden menekankan untuk segera identifikasi penyebab utama dari penurunan ini, termasuk beban impor bahan baku yang tinggi karena fluktuasi rupiah serta serangan produk-produk impor. Presiden juga menyoroti perlunya belanja produk, penggunaan bahan baku lokal, dan juga perlindungan terhadap industri dalam negeri.
Selain itu, kepala negara juga mendorong untuk pencarian pasar non tradisional dan potensi pasar ekspor baru untuk mengatasi tantangan ini.
“Dan mungkin juga karena permintaan dari ekspor atau dari luar negeri melemah, ini karena terjadi gangguan rantai pasok atau perlambatan ekonomi terhadap mitra-mitra dagang utama kita. Sehingga kita harus bisa mencari pasar non tradisional dan mencari potensi pasar baru ekspor kita,” pungkasnya.


















Discussion about this post