Suaranusantara.com- Pasar emas lokal mengalami sedikit gejolak. Kabar dari sektor ketenagakerjaan AS disebut-sebut sebagai pemicu turunnya harga logam mulia, termasuk emas batangan dari PT Aneka Tambang Tbk yang menjadi acuan di pasar domestik.
Berdasarkan pantauan situs resmi Logam Mulia, harga emas per gram terpangkas Rp 4.000 dan kini dipatok di angka Rp 1.907.000.
Sebelumnya, emas sempat mengalami lonjakan harga pada Kamis (3/7/2025), naik Rp 15.000 menjadi Rp 1.911.000 per gram. Namun, reli harga itu tak bertahan lama setelah tekanan dari pasar global mulai terasa. Pada hari Rabu (2/7/2025), harga emas cenderung stabil di level Rp 1.896.000 per gram.
Sebagai catatan, harga tertinggi emas Antam sepanjang masa terjadi pada 22 April 2025, ketika mencapai angka Rp 2.039.000 per gram. Saat ini, tren koreksi mulai terasa kembali seiring dengan penguatan dolar dan sentimen dari laporan tenaga kerja Amerika Serikat.
Tak hanya harga jual, harga beli kembali (buyback) juga mengalami penurunan. Pada Jumat pagi, harga buyback emas Antam turun Rp 4.000 menjadi Rp 1.751.000 per gram. Nilai buyback ini dapat berubah tergantung pada fluktuasi pasar dan potongan pajak sesuai regulasi pemerintah.
Mengacu pada PMK No 34/PMK.10/2017, setiap transaksi penjualan emas kembali ke Antam dengan nilai lebih dari Rp 10 juta akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) 22. Besarnya 1,5% untuk mereka yang memiliki NPWP dan 3% bagi yang tidak punya NPWP. Pajak ini langsung dipotong dari nilai buyback saat transaksi dilakukan.
Berikut daftar harga emas batangan Antam dari berbagai pecahan per Jumat, 4 Juli 2025:
0,5 gram: Rp 1.003.500
1 gram: Rp 1.907.000
2 gram: Rp 3.754.000
3 gram: Rp 5.606.000
5 gram: Rp 9.310.000
10 gram: Rp 18.565.000
25 gram: Rp 46.287.000
50 gram: Rp 92.495.000
100 gram: Rp 184.912.000
250 gram: Rp 462.015.000
500 gram: Rp 923.820.000
1.000 gram: Rp 1.847.600.000
Turunnya harga ini memberikan peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi emas fisik, terutama bagi yang menantikan momen koreksi harga di tengah ketidakpastian ekonomi global.


















Discussion about this post