Suaranusantara.com- Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum mereda. Pada perdagangan Selasa (19/5/2026) pagi, mata uang Garuda kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah sehari sebelumnya juga ditutup di zona merah.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah tercatat turun 17 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp17.685 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS menguat 0,14 persen ke level 99,052.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026), rupiah tercatat turun 71 poin atau sekitar 0,4 persen ke level Rp17.668 per dolar AS.
Menariknya, pelemahan rupiah terjadi saat dolar AS justru mengalami tekanan terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi itu dipengaruhi turunnya harga minyak dan penurunan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun dari posisi tertinggi dalam 15 bulan terakhir.
Menanggapi kondisi tersebut, ahli strategi pasar DRW Trading, Lou Brien, menilai penurunan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang menggerakkan pasar.
“Jelas itu (penurunan harga minyak) adalah pendorongnya pagi ini,” kata Lou Brien.
Di pasar global, euro tercatat menguat 0,1 persen ke level US$1,1636 terhadap dolar AS. Sementara poundsterling Inggris naik 0,7 persen menjadi US$1,3409.
Di sisi lain, yen Jepang justru melemah 0,2 persen ke level 159 per dolar AS dan menjadi titik terlemah sejak 30 April 2026.
Analis Commerzbank Michael Pfister menilai pasar mulai mengubah pandangannya terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Menurut dia, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat kini semakin menguat.
“Meskipun ekspektasi terhadap The Fed telah bergeser secara signifikan ke arah kebijakan moneter yang lebih ketat sejak awal, para pelaku pasar masih enggan bertaruh pada kenaikan suku bunga. Hal ini berubah pekan lalu, dengan ekspektasi terhadap The Fed bergeser paling mencolok di antara negara-negara G10,” kata Michael Pfister.


















Discussion about this post