Suaranusantara.com- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mendadak resmi mengumumkan penundaan sementara tarif impor tinggi pada Rabu 9 April 2025.
Pengumuman penundaan sementara itu diumumkan selang kurang dari 24 jam setelah diberlakukan tarif impor tinggi pada pukul 11.05.
Trump mengaku memutuskan secara mendadak penundaan tarif impor tinggi lantaran gejolak pasar yang sangat dramatis – volatilitas paling tajam sejak masa-masa awal pandemi Covid-19.
Triliunan dolar menguap dari bursa saham dunia, sementara lonjakan tiba-tiba pada imbal hasil obligasi pemerintah AS menarik perhatian Gedung Putih.
“Saya melihat tadi malam bahwa orang-orang mulai merasa mual,” kata Trump, dilansir Reuters. “Pasar obligasi sekarang tampak indah,” Kamis 10 April 2025.
Penundaan sementara tarif impor tinggi Trump ini berlaku ke puluhan negara termasuk Indonesia yang sebelumnya dikenakan tarif resiprokal 32 persen.
Penundaan sementara tarif impor tinggi Trump akan berlangsun selama sembilan puluh hari atau tiga bulan lamanya.
Penundaan sementara tarif impor tinggi Trump ini membawa dampak positif terlebih bagi bursa saham yang langsung meroket tajam.
Setelah pernyataan Trump ini pasar saham AS mengalami salah satu reli terbesar dalam sejarahnya Rabu waktu setempat. Padahal sebelumnya pasar berada di bawah tekanan ekstrem selama seminggu terakhir.
Indeks S&P 500 meroket 9,52% hingga ditutup pada 5.456,90 untuk kenaikan satu hari terbesar sejak 2008. Untuk indeks pasar yang luas, itu adalah kenaikan terbesar ketiga dalam sejarah pasca-Perang Dunia II (PD 2).
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 2.962,86 poin atau 7,87%, hingga ditutup pada 40.608,45 untuk persentase kenaikan terbesar sejak Maret 2020.
Sementara indeks Nasdaq Composite melonjak 12,16% hingga berakhir pada 17.124,97, mencatat kenaikan satu hari terbesar sejak Januari 2001 dan hari terbaik kedua yang pernah ada.
Ada sekitar 30 miliar saham diperdagangkan kemarin. Ini menjadikannya hari dengan volume tertinggi di Wall Street dalam sejarah, dar data yang sudah ada sejak 18 tahun lalu.
Kenaikan saham ini juga terjadi pada saham operator perusahaan Trump. Trump Media & Technology Group Corp meroket hingga 19%, setelah penundaan.
“THIS IS A GREAT TIME TO BUY” hingga Dengarkan Trump
Sebenarnya Trump sudah memberi tanda-tanda kenaikan bursa saham. Pada Rabu pagi waktu AS, beberapa menit sebelum pembukaan Wall Street, ia memosting sejumlah tanda di Truth Social.
Pertama, ia menyebut slogannya “MAKE AMERICA GREAT AGAIN”. Lalu setelahnya ia menyinggung JPMorgan dengan postingan “Memperbaiki Perdagangan dan Tarif adalah hal yang baik!” Jamie Dimon, JPMorgan Chase, Chairman & CEO, di Maria B Show!”.
Setelahnya, ia juga mengatakan “BE COOL! Semuanya akan berjalan dengan baik. AS akan menjadi lebih besar dan lebih baik dari sebelumnya!”. Lalu ia mengatakan “THIS IS A GREAT TIME TO BUY!!!” alias “INI WAKTU YANG TEPAT UNTUK MEMBELI”.
Postingan saatnya membeli bursa juga diberi tanda “DTJ”. Itu merupakan inisial presiden dan ticker untuk Trump Media & Technology, perusahaan induk Truth Social yang saham mayoritasnya dipegangnya.
Secara teori, bagi siapa pun yang membeli saham di pasar pada menit itu atas desakan Trump, mereka memperoleh keuntungan besar.
Saham melonjak dalam pembalikan historis dalam perdagangan sore setelah Trump mengumumkan penarikan kembali beberapa tarif, perubahan tajam setelah pengungkapan rencananya untuk mengenakan pajak impor minggu lalu menghancurkan pasar.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
melambung pada pembukaan perdagangan Kamis 10 April 2025 pagi waktu Indonesia. IHSG mulai merangkak di zona hijau dan bertengger di level 6.200-an.
Disebutkan juga bahwa perdagangan Kamis (10/04) ini IHSG sempat mencapai level tertingginya di angka 6.310,82, dengan level terendahnya dilaporkan bernilai 6.268,92.
Jumlah volume transaksi tercatat 1,4 miliar dengan turnover mencapai Rp1,2 triliun. Sementara jumlah frekuensi transaksi tercatat sebanyak 46.331 kali.
Sebanyak 374 saham dilaporkan menguat, 26 melemah dan 96 stagnan.
Penguatan IHSG ini terjadi mengikuti tren penguatan saham di AS. Wall Street kembali bergairah usai Trump mengumumkan jeda sementara tarif impor, termasuk untuk Indonesia senilai 32%.


















Discussion about this post