Suaranusantara.com- Dua kapal tanker milik PT Pertamina PT Pertamina International Shipping diketahui tengah terjebak di Selat Hormuz hingga hari ini Jumat 6 Maret 2026.
Sebagai informasi, Selat Hormuz kini tengah ditutup oleh Iran imbas dari serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada Sabtu 28 Februari 2026
Kapal PT Pertamina itu tengah bersandar untuk mencari tempat yang lebih imbas geopolitik antara AS-Israel vs Iran.
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pihaknya terus melakukan negosiasi dan berusaha mencari solusi terbaik.
“Sambil kita melakukan negosiasi, komunikasi yang lebih baik agar kita cari solusinya,” terang Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, dikutip Jumat 6 Maret 2026.
Bahlil menyampaikan, sambil menanti ke luarnya kapal kargo minyak tersebut, pemerintah mencari alternatif lain untuk menggantikan impor minyak yang melewati Selat Hormuz tersebut.
Salah satu solusinya adalah mencari minyak ke Amerika Serikat (AS).
“Kita mencari alternatifnya di Amerika. Untuk bisa melakukan eh menutupi apa yang ada pada dua kargo ini,” jelas Bahlil.
Sebagaimana diketahui, dalam catatan Pertamina dan Kementerian ESDM sebanyak 19% minyak RI merupakan impor yang berasal dari Timur Tengah atau melewati Selat Hormuz, yang sekarang sedang ditutup oleh Iran.
Nah, dengan dicarinya alternatif impor melalui AS, Bahlil memastikan bahwa suplai minyak untuk Indonesia akan berada dalam kondisi yang aman.
“Saya meyakinkan, saya meyakinkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa kita tahu geopolitik tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, tapi untuk kesiapan pemerintah dalam mendesain, mempersiapkan semua alternatif untuk ketersediaan BBM dan LPG, Insya Allah aman,” “Yang enggak bisa itu adalah memang ada terjadi kenaikan dan itu berdampak pada subsidi. Jadi sekarang kita lagi menghitung secara baik, dengan hati-hati,” tegas Bahlil.
Sementera itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron membenarkan, bahwa saat ini kargo minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah mengangkut sekitar 19% dari nilai impor secara keseluruhan.
“Sekitar 19% dan saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun emergensi. Jadi untuk ketahanan energi nasional Pertamina telah menyampaikan sistem tersebut untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional,” terang Baron di Grha Pertamia, dikutip Rabu 4 Februari 2026.
Pertamina saat ini sedang melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan energi nasional.
“Jadi alternatif-alternatif yang sedang kita lakukan tentu dalam proses karena ini baru beberapa hari. Dan nanti kami akan update ke media untuk kesiapan proses alternatif tersebut,” tegas Baron.


















Discussion about this post