
Jakarta-SuaraNusantara
Pemerintah Indonesia mengecam uii coba peluncuran rudal yang ditembakkan Korea Utara (Korut) dari dekat Pyongyang pada Selasa (29/8/2017) pukul 05.57 atau 05.58 waktu setempat. Rudal tersebut jatuh di perairan Jepang.
Melalui Kementerian Luar Negeri, pemerintah Indonesia menyatakan sejumlah sikap terkait uji coba rudal Korut teranyar itu.
“Indonesia mengecam uji coba peluncuran rudal yang dilakukan oleh Korea Utara pada tanggal 28 Agustus 2017 yang melewati ruang udara negara lain dan membahayakan jalur penerbangan,” bunyi keterangan resmi dari Kementerian Luar Negeri RI, Selasa (29/8/2017).
Menurut pemerintah Indonesia, peluncuran rudal Korea Utara teranyar itu melanggar sejumlah Resolusi Dewan Keamanan PBB.
“Tindakan uji coba tersebut bertentangan dengan kewajiban Korea Utara terhadap resolusi DK PBB terkait, khususnya resolusi 2270 (2016), 2321 (2016), 2356 (2017), dan 2371 (2017),” tulis keterangan resmi tersebut.
Menyikapi aksi ‘main tembak’ yang belakangan ini kerap dilakukan Korut di bawah kepemimpinan rezim Kim Jong-un, Pemerintah Indonesia mendesak agar Korut mematuhi setiap peraturan internasional yang ditetapkan oleh PBB.
“Indonesia menegaskan kembali bahwa stabilitas di semenanjung Korea sangat penting artinya. Untuk itu, Indonesia mengajak semua negara untuk berkontribusi terhadap penciptaan perdamaian dan stabilitas di semenanjung Korea,” tutup rilis tersebut.
Selain Indonesia, kecaman juga datang dari beberapa negara di dunia, seperti Amerika Serikat dan Australia, termasuk Korsel dan Jepang yang belakangan bersitegang dengan Korut. Australia bahkan menyatakan siap mendukung Jepang “setiap saat” yang mungkin bisa diartikan sebagai bantuan militer bila diperlukan.
Di tempat terpisah, pejabat Korea Selatan (Korsel) dan Jepang mengatakan, peluru kendali yang ditembakkan Korut melintasi wilayah udara Pulau Hokkaido, yang terletak di utara Jepang. Ini merupakan kali pertama rudal Korut melintasi Jepang sejak 1998 dan 2009.
“Rudal tersebut terbang setinggi 1.677 mil dan berada pada ketinggian 341 mil sebelum mendarat di laut,” demikian ungkap pihak militer Korsel, dikutip oleh The New York Times, Selasa (29/8/2017).
Melalui sebuah pernyataan yang dimuat di akun Twitter-nya, Perdana Menteri Shinzo Abe mengonfirmasi rudal ditembakkan pada pukul 05.58 waktu setempat sebelum akhirnya pecah menjadi tiga bagian dan mendarat sekitar 730 mil di lepas pantai Tanjung Erimo, Hokkaido, pada pukul 06.12.
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in segera memerintahkan agar militernya bersiap. Bahkan, jika perlu menyerang Korea Utara.
“Militer kita harus dipaksa memenuhi persyaratan perang modern sehingga dapat dengan cepat beralih ke sikap ofensif jika Korea Utara melakukan provokasi,” menurut kantor berita Korea Selatan, Yonhap.
Sementara itu, pemerintah Jepang mengirim peringatan berupa pesan teks kepada warga dan menyarankan agar mereka berlindung. Tidak lama, Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menegaskan bahwa langkah Pyongyang merupakan “ancaman yang paling serius dan genting bagi Jepang”.
“Kami telah mengajukan protes keras ke Korut. Kami telah meminta DK PBB menggelar pertemuan darurat. Di bawah aliansi AS-Jepang yang kuat, kita akan mengambil seluruh tindakan demi memastikan keamanan warga,” ujar PM Abe.
Sementara itu, di Washington, Pentagon mengatakan, “Kami dapat memastikan bahwa rudal yang diluncurkan Korut terbang di langit Jepang. Kami masih dalam proses mengidentifikasi peluncuran ini. Komando Pertahanan Ruang Angkasa Amerika Utara atau NORAD memastikan bahwa tembakan rudal Korut tidak memicu ancaman bagi Amerika Utara”.
Insiden uji coba rudal yang ditembakkan ke wilayah Jepang merupakan upaya provokatif Korut untuk memanaskan suasana, sekaligus menunjukkan kemampuan sistem persenjataan yang mereka miliki. Sebab, saat rudal tersebut ditembakkan kea rah Jepang, Pasukan Bela Diri Jepang dan Angkatan Udara Amerika Serikat tengah mendemonstrasikan sistem pertahanan rudal PAC III di pangkalan udara Yokota.
Penulis: Yono D

















