Suaranusantara.com – Evakuasi mendadak datang setelah gelap malam di Jalur Gaza selatan ketika militer Israel melepaskan tembakan peringatan dekat rumah Nasser Abu Quta.
Tujuannya adalah memungkinkan warga untuk mengungsi sebelum serangan udara menghantam. Meskipun Abu Quta dan keluarganya berusaha mengamankan diri beberapa ratus meter dari rumah mereka yang telah diperingatkan akan serangan, nasib tragis menimpa mereka.
Pada saat rumah tetangga Abu Quta selamat dari serangan udara, ledakan mengerikan merusak rumahnya sendiri, menyebabkan kematian 19 anggota keluarganya, termasuk istri dan sepupunya.
Baca Juga :Â Kenali Kode Plastik Galon: Mengenali Bahaya BPA dalam Galon Air Minum
Selain itu, serangan itu juga merenggut lima nyawa tetangga yang berada di luar kamp pengungsi yang padat penduduknya, yang terdiri dari sekumpulan bangunan dan gang.
Serangan udara di Rafah, sebuah kota di selatan perbatasan Gaza dengan Mesir, merupakan bagian dari intensifikasi pemboman yang dilakukan oleh pasukan Israel sebagai tanggapan terhadap serangan besar-besaran oleh militan Hamas pada hari Sabtu.
Serangan itu telah mengakibatkan lebih dari 700 kematian di Israel pada malam Minggu.
Hamas juga telah menculik beberapa warga Israel dan menembakkan ribuan roket ke pusat-pusat pemukiman Israel, meskipun sebagian besar di antaranya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Iron Dome.
Nasser Abu Quta merasa bingung mengapa rumahnya diserang oleh Israel. Dia bersikeras bahwa tidak ada militan di dalam bangunan tersebut, dan keluarganya tidak pernah menerima peringatan evakuasi.
Baca Juga :Â Jorge Martin Dominasi Performa pada Free Practice pertama (FP1) MotoGP Mandalika 2023
Mereka pasti akan meninggalkan rumah jika mereka tahu akan ada serangan udara, tambahnya, seperti yang diungkapkan oleh kerabatnya, Khalid.
“Rumah ini adalah tempat perlindungan, terdapat anak-anak dan perempuan,” ujarnya sambil teringat dengan jelas momen tragis itu. “Debu menutupi seluruh rumah, dan teriakan terdengar di mana-mana,” katanya.
Abu Quta menghadapi kepedihan yang mendalam saat dia bersiap-siap untuk menghadiri pemakaman bersama keluarganya yang masih hidup, termasuk anak-anak dan cucu-cucunya yang terluka parah.
Proses identifikasi mayat menjadi sangat sulit karena banyak jenazah harus dikeluarkan dari reruntuhan yang hangus dan hancur.
Meskipun dia berhasil mengidentifikasi 14 anggota keluarganya yang telah meninggal, setidaknya ada empat jenazah anak-anak yang belum teridentifikasi di kamar mayat, sementara satu mayat masih belum ditemukan.
“Mungkin besok kita akan mengubur mereka bersama dalam satu kuburan. Semoga mereka mendapatkan ketenangan yang layak,” ujarnya dengan penuh kesedihan.(Dn)


















Discussion about this post