SuaraNusantara.com – Sobat muda pasti pernah mendengar istilah “ghosting” bukan? Istilah ini adalah bagian tak terpisahkan dari percintaan dan pertemanan generasi milenial yang penuh dengan dinamika dan ketidakpastian.
Ghosting, jika diartikan dalam bahasa harfiah, memiliki makna “bayangan.” Sebuah bayangan yang tiba-tiba muncul dan menggantikan kenyataan yang seharusnya ada.
Dalam konteks hubungan antarmanusia, ghosting adalah tindakan seseorang yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak dari kehidupan seseorang yang mereka hubungi atau berkawan dengannya.
Baca Juga:PDIP Sebut Gibran Lakukan Pembangkangan: Keluar dari Garis Keputusan Partai
Sebagai contoh, bayangkan Anda sedang dalam tahap awal menjalin hubungan romantis dengan seseorang atau mungkin Anda telah menjalin pertemanan yang kuat. Semuanya berjalan lancar, dan Anda merasa dekat dengan orang tersebut.
Namun, tiba-tiba, tanpa ada penjelasan atau pemberitahuan sebelumnya, orang itu menghilang dari hidup Anda. Mereka tak lagi merespons pesan Anda, mengabaikan panggilan telepon, dan seakan-akan tidak pernah ada.
Inilah yang disebut ghosting. Itu adalah pengalaman yang tidak hanya membuat seseorang merasa terabaikan dan terluka, tetapi juga memunculkan pertanyaan dan keraguan dalam pikiran.
Mengapa ini terjadi? Apakah saya melakukan sesuatu yang salah? Apakah ini akhir dari hubungan ini?
Ghosting seringkali terjadi di dunia digital, dengan pesan teks yang tidak dibalas menjadi fenomena umum.
Baca Juga:Â Fidgeting Respon Alami Tubuh Meningkatkan konsentrasi
Namun, ghosting juga bisa terjadi dalam pertemuan tatap muka, di tempat kerja, atau bahkan dalam pertemanan sehari-hari. Ini adalah tindakan yang penuh misteri dan kadang-kadang tidak adil.
Mengapa seseorang memilih untuk ghosting? Alasannya bervariasi, mulai dari ketidaknyamanan dalam menghadapi konflik, ketidakjujuran, hingga perasaan tidak nyaman yang muncul tiba-tiba.
Namun, satu hal yang perlu diingat adalah bahwa ghosting bukanlah cara yang baik atau bijak untuk mengakhiri hubungan atau pertemanan.
Sebaliknya, komunikasi terbuka dan jujur selalu merupakan pilihan yang lebih baik. Jika Anda merasa hubungan harus berakhir, memberi penjelasan dan penutupan yang baik akan membantu kedua belah pihak untuk memahami dan menerima situasi tersebut.
Setelah semua, kita semua pantas mendapatkan perlakuan yang baik dan menghargai perasaan satu sama lain.
Baca Juga:OJK dan TPAKD Gelar BALI FINEF 2023, Luncurkan Program Kredit untuk Petani Padi
Ghosting mungkin adalah fenomena yang umum terjadi di era digital, tetapi kita semua memiliki kekuatan untuk mengubahnya dengan memprioritaskan komunikasi yang baik dan menghargai perasaan orang lain.
Semoga dengan semakin berbicara dan memahami ghosting, kita dapat menciptakan hubungan yang lebih sehat dan saling menghormati. (Alief)


















Discussion about this post