Suaranusantara.com – Pemungutan suara seringkali dianggap sebagai keputusan yang rasional.
Namun, menurut sebuah penelitian yang menarik, preferensi kita mungkin tidak selalu bisa dikendalikan secara sepenuhnya.
Dalam proses mencoblos, terdapat aspek psikologi yang tersembunyi dan memengaruhi pilihan kita.
Pengambilan Keputusan yang Tidak Selalu Rasional
Para ahli psikologi telah lama memahami bahwa keputusan kita tidak selalu berdasarkan pertimbangan yang logis. Jon Krosnick, seorang profesor ilmu politik di University of Stanford, meneliti fenomena ini dengan seksama.
Menurutnya, otak kita dapat dibagi menjadi dua bagian, dan faktanya, semua pengambilan keputusan dilakukan secara tidak sadar. Meskipun kita mendengarkan para kandidat selama acara debat pemilihan, faktor-faktor lain seperti etnisitas para kandidat juga mempengaruhi keputusan kita.
Contohnya, pada Pilpres AS tahun 2008, orang-orang dengan skor prasangka rasial implisit yang lebih tinggi cenderung memilih berdasarkan etnisitas para kandidat.
Rasa Jijik dan Preferensi Politik
Yoel Inbar, seorang profesor psikologi di University of Toronto, meneliti faktor tersembunyi lain yang memengaruhi pilihan kita: perasaan jijik. Penelitiannya menunjukkan bahwa orang yang lebih mudah merasa jijik cenderung memiliki kecenderungan politik yang lebih konservatif. Ini menunjukkan bahwa emosi dan prasangkamemainkan peran penting dalam proses pemilihan.
Sistem Kekebalan Perilaku
Inbar berpendapat bahwa hubungan antara politik, moral, dan rasa jijik dapat dijelaskan oleh kondisi biologi masa prasejarah. Ketika manusia mulai hidup dalam kelompok sosial yang lebih besar, mereka mengembangkan perilaku untuk meminimalkan risiko tertular penyakit. Para psikolog menyebutnya sebagai ‘sistem kekebalan perilaku’.
Dengan kata lain, preferensi kita tidak hanya dipengaruhi oleh fakta dan logika, tetapi juga oleh reaksi emosional dan prasangka yang mungkin kita miliki.
Jadi, ketika Anda mencoblos, ingatlah bahwa ada lebih banyak hal tersembunyi di balik keputusan Anda daripada yang terlihat pada permukaan. Psikologi memainkan peran yang kuat dalam menentukan pilihan kita, bahkan ketika kita berpikir kita memilih secara rasional.


















Discussion about this post