Suaranusantara.com- Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan bahwa untuk urusan menghadapi kondisi geopolitik, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tidak membatasi pasokan alutsista yang dibutuhkan oleh TNI.
“Kebutuhan-kebutuhan alutsista yang dibutuhkan oleh TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Laut serta TNI Angkatan Udara ini, ini dipasok tanpa pembatasan,” ujar Sjafrie kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu 2 Juli 2025.
Kata Sjafrie, Indonesia sebagai negara yang menganut politik bebas aktif dan berada di garis non-blok, dalam pengadaan alutsista tak ada tarikannya dengan akan mendukung pihak-pihak tertentu.
“Kita sebagai negara yang menganut politik bebas aktif dan berada pada garis nonblok itu tidak mempunyai restriksi apa apa terhadap pengadaan alutsista,” ungkapnya
Maka dari itu, pasokan alutsista, Kemenhan terus memfasilitasi dan tak dibatasi guna menjaga kedaulatan negara Indonesia.
“Jadi kebutuhan pengguna dan pembina kekuatan ini kita fasilitasi untuk memperkuat kekuatan matra darat, laut, dan udara,” tambahnya.
Selain itu, Menhan Sjafrie juga mengungkapkan, Indonesia memang saat ini masih terkena sanksi Caatsa sehingga tidak dapat membeli jet tempur Sukhoi dari Rusia.
Indonesia, pada saat era Menteri Pertahanan Prabowo Subianto melakukan pembelian jet tempur Rafale dari Prancis.
“Kita tahu bahwa kita juga ada Caatsa yang menjadi ketentuan dari Amerika, tetapi sampai dengan saat ini kita bisa melakukan satu upaya yang kita lakukan dari dalam negeri, untuk memperbaiki alutsista Sukhoi 27 dan Sukhoi 30 yang memerlukan perbaikan,” paparnya.


















Discussion about this post