Suaranusantara.com- Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri mengungkap praktik curang produsen di mana melakukan pengoplosan terhadap beras-beras yang dijual di pasaran.
Mirisnya, beras-beras oplosan yang beredar luas di pasaran dikemas secara premium dan dijual dengan harga tinggi. Beras-beras oplosan yang dikemas secara premium itu rata-rata dijual di retail modern.
Ada sejumlah merek-merek ternama yang ternyata beras oplosan. Seperti Sania, Fortune, Siip yang merupakan produksi dari Wilmar Group.
Tentunya, hal ini membuat para ibu-ibu khawatir dalam membeli beras. Sebab, sudah membeli dengan harga tinggi namun yang didapat ternyata tidak sesuai.
Diketahui ada sebanyak 212 merek beras oplosan yang beredar. Namun, baru 26 merek yang terungkap, berikut daftarnya:
1. Wilmar Group
Sania
Sovia
Fortune
Siip
2. PT Food Station Tjipinang Jaya
Alfamidi Setra Pulen
Beras Premium Setra Ramos
Beras Pulen Wangi
Food station
Ramos Premium
Setra Pulen
Setra Ramos
3. PT Belitang Panen Raya
Raja Platinum
Raja Ultima
4. PT Unifood Candi Indonesia
Larisst
Leezaat
5. PT Buyung Poetra Sembada Tbk
Topi Koki
6. PT Bintang Terang Lestari Abadi
Elephas Maximus
Slyp Hummer
7. PT Sentosa Utama Lestari/Japfa Group
Ayana
8. PT Subur Jaya Indotama
Dua Koki
Beras Subur Jaya
9. CV Bumi Jaya Sejati
Raja Udang
Kakak Adik
10. PT Jaya Utama Santikah
Pandan Wangi BMW Citra
Kepala Pandan Wangi
Medium Pandan Wangi
Penemuan beras oplosan bermula dari Kementan bersama Satgas Pangan Polri melakukan pengujian sampel beras yang beredar di pasaran diambil dari berbagai daerah.
Kementan melakukan uji kualitas terhadap 268 sampel dari 212 merek beras. Pengujian dilakukan pada 6 hingga 23 Juni 2025. Itu artinya, 85,56 persen beras premium yang diuji tidak sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan.
Kemudian, 59,78 persen beras premium tersebut juga tercatat melebihi harga eceran tertinggi (HET).
Sekitar 21,66 persen memiliki berat riil yang lebih rendah dibandingkan dengan yang tertera pada kemasan.
Kementan juga menemukan 88,24 persen beras medium tidak memenuhi standar mutu SNI. Sekitar 95,12 persen beras medium ditemukan dijual dengan harga yang melebihi HET.
Kementan mencatat 9,38 persen memiliki selisih berat yang lebih rendah dari informasi yang tercantum pada kemasan.
Temuan bermula dari penindakan gudang di Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Banten, yaitu beras Bulog yang telah diputihkan dibungkus dengan merek Ramos dan Bantuan Pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).
Beras hasil oplosan itu dipasarkan di Bogor, Tangerang, Serang dan Kota Cilegon. Mereka sudah beroperasi sejak 2019.
Para pelaku mengantongi keuntungan Rp732 juta hanya untuk periode Desember 2023 hingga Maret 2024.
Pada Kamis 10 Juli 2025, polisi memanggil sejumlah produsen beras yang terlibat skandal oplosan untuk menjalani pemeriksaan.
Adapun produsen-produsen beras yang dipanggil untuk jalani pemeriksaan pada Kamis 10 Juli 2025 lalu di antaranya Wilmar Group, Food Station Tjipinang Jaya, Belitang Panen Raya (BPR), dan Sentosa Utama Lestari (Japfa Group).


















Discussion about this post