Suaranusantara.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian mengeluarkan delapan arahan untuk seluruh kepala daerah di Indonesia dalam menyikapi perkembangan politik dan keamanan terkini. Instruksi tersebut tidak hanya teknis, tetapi juga sarat dengan pesan simbolik untuk meredam ketegangan di masyarakat.
Tito meminta kepala daerah menggelar rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta berdialog dengan tokoh masyarakat. Ia juga mendorong doa bersama lintas agama sebagai bentuk penguatan solidaritas sosial.
Menurut Tito, langkah sederhana ini penting agar masyarakat merasa dekat dengan pemerintah. “Doa lintas agama bersama masyarakat dan pemerintah bisa menjadi pesan bahwa negara hadir dalam situasi apapun,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi 2025 di Jakarta, Selasa (2/9).
Selain itu, kepala daerah diminta menggencarkan program pro rakyat seperti pasar murah dan bantuan sosial. Tito menilai kegiatan nyata yang langsung menyentuh masyarakat lebih berdampak daripada seremonial yang berkesan pesta.
“Di tengah situasi seperti ini sangat sensitif. Jadi kegiatan dilakukan sederhana, misalnya tumpengan, santunan anak yatim, atau membantu masyarakat kurang mampu. Itu jauh lebih bermanfaat,” kata Tito.
Instruksi Mendagri juga melarang kepala daerah dan keluarganya melakukan flexing atau pamer kemewahan. Ia menekankan agar acara pribadi seperti pernikahan, ulang tahun, atau khitanan tetap digelar sederhana tanpa berlebihan.
Arahan lain adalah pembatalan perjalanan dinas ke luar negeri serta kewajiban kepala daerah stand by di wilayahnya masing-masing. Menurut Tito, pemimpin yang hadir dan sederhana dapat menjadi simbol stabilitas di tengah dinamika politik nasional.


















Discussion about this post