Suaranusantara.com- Terkait kelanjutan soal tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan kedua negara telah sepakat dan diatur dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART).
Trump sebelumnya mengeluarkan tarif dagang sebesar 32 persen pada April 2025. Namun, selang beberapa hari, Trump menurunkan jadi 19 persen berlaku per 1 Agustus 2025.
Indonesia pun melakukan upaya dengan bernegosiasi dengan pihak AS.
Kebijakan menaikan tarif dagang merupakan bagian dari strategi “America First” Trump untuk melindungi industri dalam negeri AS dengan menaikkan biaya barang impor dari negara-negara yang dianggap memiliki surplus perdagangan dengan AS, seperti Indonesia.
“Seluruh isu substansi yang telah diatur dalam dokumen ART sudah dapat disepakati kedua belah pihak baik isu-isu utama maupun isu teknis yang akan diselesaikan, disesuaikan bahasanya dalam legal drifting dan proses teknis selanjutnya,” kata Airlangga dalam konferensi pers dari Washington yang dilihat virtual, Selasa 23 Desember 2025.
Kata Airlangga dari hasil pertemuannya dengan Ambassador United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer, telah disepakati tenggat waktu penyelesaian teknis terkait tarif dagang kedua negara.
Airlangga mengatakan bahwa sebelum akhir Januari 2026 Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump dapat bertemu untuk melakukan penandatanganan dokumen.
“Pada minggu kedua Januari 2026 tim teknis Indonesia dan AS akan melanjutkan kembali pertemuan teknis untuk legal scrubbing, serta clean up dokumen yang ditargetkan selesai dalam satu minggu dan target waktunya antara tanggal 12-19. Setelah seluruh proses teknis diselesaikan, maka diharapkan sebelum akhir Januari akan disiapkan dokumen untuk dapat ditandatangani secara resmi oleh Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump,” ucap Airlangga.
Airlangga berujar, AS saat ini tengah mengatur jadwal pertemuan antara Prabowo dan Trump.
“Saat ini pihak AS sedang mengatur waktu yang tepat untuk rencana pertemuan antara kedua pemimpin tersebut,” tambahnya.
Airlangga menekankan bahwa perjanjian ini melanjutkan kesepakatan pertemuan kedua pemimpin sebelumnya yakni tarif Indonesia diturunkan dari 32% menjadi 19%.
Indonesia juga mendapatkan pengecualian tarif khusus untuk produk-produk unggulan ekspor ke AS seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao dan lainnya.
“Tentu ini menjadi kabar yang baik terutama bagi industri Indonesia yang terdampak langsung kebijakan tarif, di mana sektor-sektor yang terkena tarif tersebut terutama padat karya mempekerjakan 5 juta pekerja dan tentunya ini sangat strategis bagi Indonesia,” pungkasnya.


















Discussion about this post