Suaranusantara.com- Industri film nasional dinilai tengah menghadapi tantangan besar, mulai dari dampak kecerdasan buatan hingga persoalan struktural yang belum terselesaikan. Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini meminta negara tidak abai dan hadir penuh untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perfilman Indonesia.
Novita menilai penggunaan AI berpotensi menjadi ancaman nyata bagi lapangan kerja pekerja kreatif jika tidak diiringi dengan regulasi yang berpihak. Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh dijadikan dalih jika justru mengorbankan pelaku industri kreatif lokal.
“AI jangan dipoles sebagai inovasi, jika faktanya menggerus ruang hidup pekerja kreatif kita. Negara tidak boleh abai terhadap ancaman ini,” kata Novita, dalam keterangan persnya, dikutip Selasa, 3 Februari 2026.
Di sisi lain, Novita mengapresiasi peran film Indonesia yang selama ini terbukti efektif sebagai sarana promosi pariwisata dan identitas budaya. Ia menilai berbagai film populer nasional telah menunjukkan bahwa perfilman merupakan instrumen strategis dalam diplomasi budaya dan ekonomi kreatif.
Meski demikian, ia menyoroti masih adanya masalah mendasar seperti keterbatasan layar bioskop, lemahnya distribusi, serta minimnya akses pendanaan yang membuat industri film sulit berkembang secara berkelanjutan.
Novita juga menyoroti persoalan serius terkait pengarsipan film nasional. Ia mengungkapkan bahwa dari ribuan film yang diproduksi selama hampir satu abad, sekitar 1.500 judul dilaporkan hilang akibat tidak adanya sistem restorasi dan arsip yang memadai.
“Generasi muda saat ini bahkan banyak yang tidak mengenal tokoh perfilman kita sendiri misalnya Adi Bin Slamet dan Benyamin. Ini kegagalan negara dalam menjaga warisan budaya,” ungkapnya.
Menurutnya, lemahnya pengelolaan arsip berdampak pada pudarnya sejarah perfilman Indonesia. Banyak generasi muda dinilai tidak lagi mengenal tokoh-tokoh film nasional, yang mencerminkan kurangnya perhatian negara terhadap warisan budaya.
Lebih lanjut, Novita mengkritik ketergantungan Indonesia terhadap impor IP asing, sementara IP lokal justru tidak mendapatkan dukungan anggaran dan pembiayaan yang memadai. Kondisi tersebut dinilai menghambat Indonesia untuk menembus pasar global.
Ia menilai bantuan pendanaan dengan nilai terbatas tidak akan cukup menggerakkan industri film secara menyeluruh. Untuk itu, Novita mendorong hadirnya skema pembiayaan yang lebih serius, termasuk venture capital khusus sektor film.
Novita menegaskan bahwa industri film harus diposisikan sebagai instrumen strategis nasional, dengan negara hadir dalam perlindungan hak cipta, penguatan pembiayaan, serta pembenahan ekosistem agar perfilman Indonesia dapat tumbuh berkelanjutan.


















Discussion about this post