Suaranusantara.com- Di tengah perang Timur Tengah, pasokan minyak terancam. Untuk mengantisipasi ancaman krisis minyak, Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk segera mempercepat transisi Energi Terbarukan (EBT).
Adapun jajaran yang dimaksud adalah Satuan Tugas Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (Satgas EBTKE. Di mana, transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan, terutama yang bersumber dari tenaga surya.
“Itu salah satu yang juga kita bicarakan (saat rapat bersama Presiden, red.) bahwa harus ada alternatif-alternatif apa yang akan dipakai ketika Selat Hormuz kondisinya masih seperti ini,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia usai menghadap Presiden Prabowo di Istana, Jakarta, Kamis 12 Maret 2026.
Bahlil kemudian menjelaskan dirinya juga melaporkan hasil rapat perdana satgas, yang diikuti oleh delapan menteri, jajaran pimpinan Kementerian ESDM, dan petinggi PT PLN.
Dia menyebut satgas dapat langsung mengeksekusi rencana-rencana kerjanya terkait transisi energi, termasuk menghentikan beberapa pembangkit listrik yang masih menggunakan bahan bakar fosil, seperti pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang masih menggunakan bahan bakar solar.
Targetnya, Bahlil menyebut satgas dapat langsung bekerja saat Hari Raya Idulfitri 1447 H yang jatuh minggu depan.
Saat ini kondisi geopolitik tengah memanas, membuat kondisi energi RI tentu tidak bisa dipastikan dalam kurun waktu jangka panjang.
Untuk itu, pemerintah berupaya mengoptimalkan sumber daya yang ada di dalam negeri.
“Dalam kondisi geopolitik perang ini, tidak bisa kita memastikan bahwa energi kita ini akan seperti apa dalam konteks jangka panjang. Oleh karena itu, kita mengoptimalkan seluruh potensi kita yang ada dalam negeri, energi-energi yang bisa kita konversi dari fosil untuk kita bisa lakukan (transisi) seperti ini,” ujar Bahlil.
Walaupun demikian, Bahlil melanjutkan pemerintah tentu menunggu infrastruktur pembangkit listrik pengganti, yaitu yang bersumber dari energi baru dan terbarukan itu rampung dibangun lebih dulu, baru akan menyetop operasional pembangkit listrik yang bersumber dari bahan bakar fosil.
“Bangun dulu dong, kalau di-setop belum dibangun kan penggantinya tidak ada. Jadi, paralel, begitu dibangun, begitu sudah langsung COD, PLTD-nya dimatikan,” kata Bahlil
COD atau tanggal operasi komersial merupakan tahapan yang menandai berakhirnya pengujian teknis, dan diawalinya operasional pembangkit listrik untuk menyalurkan listrik ke jaringan listrik PLN.

















Discussion about this post