Suara Nusantara
Advertisement
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks
No Result
View All Result
  • Login
Suara Nusantara
Home Nasional

Antara Tekanan Global dan Kepentingan Nasional

snc4 by snc4
25 March 2026
in Nasional
Reading Time: 4 mins read
A A
Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS Johan Rosihan

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS Johan Rosihan

3
SHARES
23
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Suaranusantara.com- Pernyataan keras dari Donald Trump terkait kemungkinan konsekuensi jika Indonesia keluar dari Board of Peace (BOP) mencerminkan perubahan karakter hubungan internasional yang kian bersifat transaksional.

Dalam dinamika global saat ini, komitmen antarnegara tidak lagi semata-mata dipandang sebagai kesepakatan normatif, melainkan sebagai instrumen untuk menjaga kepentingan ekonomi dan geopolitik masing-masing pihak.

Situasi ini, kata Johan Rosihan selaku anggota DPR RI, menempatkan Indonesia pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, Indonesia perlu menjaga hubungan baik dengan mitra strategis seperti Amerika Serikat yang memiliki pengaruh besar dalam sistem ekonomi global. Namun di sisi lain, Indonesia juga dituntut untuk tetap menjaga kedaulatan dalam menentukan arah kebijakan luar negeri.

BACAJUGA

Pancasila di Tengah Kebisingan Politik: Menemukan Kembali Arah Bangsa

Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI: Kurban Adalah Investasi Karakter Generasi Muda

“Risiko terbesar dalam kondisi ini adalah terjebak pada pilihan yang sempit antara tunduk pada tekanan global atau mengambil langkah konfrontatif tanpa perhitungan matang. Kedua opsi tersebut dinilai berpotensi merugikan kepentingan nasional, baik dalam bentuk erosi kedaulatan maupun instabilitas politik dan ekonomi,” ungkapnya.

Dalam praktiknya, Johan melihat banyak negara berkembang menghadapi dilema serupa. Mereka harus mampu menavigasi tekanan dari kekuatan besar sambil tetap mempertahankan ruang kebijakan domestik. Indonesia sendiri memiliki modal historis melalui prinsip politik luar negeri bebas aktif yang telah dirintis sejak era Soekarno.

Namun, modal tersebut hanya akan efektif jika diikuti dengan konsistensi dan ketegasan dalam menentukan prioritas. Kepentingan nasional harus menjadi kompas utama, bukan sekadar pertimbangan jangka pendek yang dipengaruhi oleh tekanan eksternal.

“Setiap keputusan terkait keikutsertaan atau penarikan diri dari suatu inisiatif global harus didasarkan pada pertanyaan mendasar apakah langkah tersebut memperkuat atau justru melemahkan posisi Indonesia dalam jangka panjang?,” katanya.

Risiko yang Tidak Terlihat

Menurut Johan, dinamika geopolitik global tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu politik luar negeri. Perkembangan hubungan antarnegara terbukti memiliki dampak langsung terhadap kondisi fiskal, termasuk terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ketika hubungan dengan mitra strategis mengalami gangguan, dampaknya segera terasa pada sektor perdagangan. Penurunan ekspor komoditas unggulan dapat terjadi akibat hambatan tarif maupun non-tarif. Bagi Indonesia, komoditas seperti produk pertanian, perikanan, dan turunannya sangat bergantung pada akses pasar global, sehingga rentan terhadap perubahan kebijakan perdagangan internasional,” ujarnya.

Selain itu, ketidakstabilan geopolitik juga berpotensi mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya produksi di dalam negeri, terutama karena ketergantungan pada input impor seperti pupuk, pakan, dan teknologi. Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya menekan margin usaha dan berisiko menurunkan produktivitas sektor-sektor strategis.

Dari sisi moneter, Johan menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi salah satu risiko utama. Ketidakpastian global cenderung memicu arus modal keluar (capital outflow), yang berujung pada pelemahan nilai tukar. Dalam situasi ini, pemerintah kerap perlu mengalokasikan anggaran tambahan guna menjaga stabilitas ekonomi.

Implikasi lainnya adalah meningkatnya beban subsidi, khususnya pada sektor pangan dan energi. Kenaikan harga global memaksa pemerintah untuk hadir melindungi daya beli masyarakat. Namun, konsekuensinya adalah semakin terbatasnya ruang fiskal untuk pembiayaan pembangunan.

Menurutnya setiap keputusan diplomatik memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan. Pemerintah dituntut untuk mempertimbangkan secara cermat dampak geopolitik terhadap keberlanjutan fiskal, demi menjaga kemampuan negara dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sektor yang Paling Rentan

Johan menilai ketahanan pangan menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap dinamika geopolitik global. Dalam kondisi normal, pasar internasional berperan sebagai penyeimbang ketika produksi domestik mengalami tekanan. Namun, di tengah ketidakstabilan geopolitik, mekanisme tersebut justru berpotensi menjadi sumber kerentanan baru.

“Gangguan dalam hubungan internasional dapat berdampak langsung pada akses terhadap impor pangan strategis. Pembatasan ekspor oleh negara pemasok maupun hambatan distribusi global berisiko menimbulkan kekurangan pasokan di dalam negeri. Situasi ini turut menyulitkan upaya menjaga stabilitas harga pangan,” kata Johan.

Di sisi lain, sektor produksi dalam negeri juga terdampak oleh fluktuasi global. Harga input seperti pupuk, benih, dan pakan ternak sangat dipengaruhi oleh pasar internasional. Kenaikan harga input tersebut menyebabkan peningkatan biaya produksi yang pada akhirnya berdampak pada harga jual di tingkat konsumen.

Distribusi pangan turut menghadapi tantangan signifikan. Gangguan pada jalur logistik, baik akibat konflik maupun kebijakan perdagangan, dapat menghambat kelancaran pasokan antarwilayah. Sebagai negara kepulauan, Indonesia dihadapkan pada kompleksitas tambahan dalam memastikan distribusi pangan yang efisien dan merata.

Lebih lanjut, Johan berpendapat bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, tetapi juga akses masyarakat. Tekanan ekonomi akibat gejolak global berpotensi menurunkan daya beli, sehingga tidak semua lapisan masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pangannya meskipun pasokan tersedia.

Oleh karena itu, stabilitas hubungan internasional menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Selain memperkuat produksi domestik, Indonesia juga perlu memastikan akses terhadap pasar global tetap terbuka guna mengantisipasi berbagai risiko di tengah ketidakpastian global.

Menjaga Indonesia sebagai Penyeimbang

Di tengah rivalitas global yang semakin tajam, Johan menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai penyeimbang. Peran ini tidak hanya penting bagi kepentingan nasional, tetapi juga bagi stabilitas kawasan, khususnya di Asia Tenggara.

Melalui forum kerja sama regional, Indonesia memanfaatkan perannya dalam ASEAN untuk mendorong kolaborasi yang inklusif dan berorientasi pada kepentingan bersama. Selama ini, ASEAN dikenal sebagai kawasan yang relatif stabil, dengan Indonesia sebagai salah satu aktor kunci dalam menjaga keseimbangan tersebut.

Meski demikian, Johan menyebutkan bahwa peran sebagai penyeimbang tidak terbentuk secara otomatis. Indonesia perlu terus aktif membangun kepercayaan dengan berbagai pihak, baik di tingkat regional maupun global. Hal ini menuntut konsistensi kebijakan serta kemampuan menjaga komunikasi yang konstruktif dengan seluruh mitra strategis.

Johan menilai, kecenderungan untuk berpihak pada salah satu kekuatan besar dapat melemahkan kredibilitas Indonesia sebagai penyeimbang. Sebaliknya, sikap yang proporsional dan independen justru akan memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah internasional.

“Setiap keputusan terkait keterlibatan dalam inisiatif global perlu dipertimbangkan secara matang. Langkah yang diambil harus mampu memperkuat, bukan melemahkan, peran Indonesia sebagai penyeimbang di tengah dinamika global,” ujarnya.

Peran penyeimbang tidak dimaknai sebagai sikap netral tanpa arah, melainkan sebagai upaya aktif dalam menciptakan ruang dialog dan kerja sama di tengah perbedaan. Prinsip ini sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi landasan diplomasi Indonesia.

Kedaulatan dengan Perhitungan

Johan berpendapat untuk menghadapi situasi global yang semakin kompleks, Indonesia dinilai perlu menghindari pilihan ekstrem dalam menentukan arah kebijakan luar negeri. Pendekatan yang mengedepankan kedaulatan dengan perhitungan matang dinilai sebagai langkah paling rasional dalam menjaga kepentingan nasional.

Pemerintah didorong untuk melakukan evaluasi komprehensif terhadap setiap kebijakan strategis. Kajian mendalam diperlukan guna menimbang manfaat dan risiko, termasuk implikasinya terhadap sektor ekonomi, fiskal, serta sektor strategis seperti ketahanan pangan.

Selain itu, opsi renegosiasi dinilai perlu tetap terbuka. Dalam situasi di mana terdapat ketidakseimbangan dalam suatu kesepakatan, Indonesia memiliki ruang untuk memperjuangkan kepentingannya melalui dialog konstruktif. Diplomasi tidak hanya berkutat pada pilihan menerima atau menolak, tetapi juga pada kemampuan untuk menyesuaikan kesepakatan agar lebih menguntungkan.

Di sisi lain, pentingnya menjaga komunikasi diplomatik juga menjadi sorotan. Upaya ini diperlukan untuk mencegah terjadinya eskalasi yang tidak diinginkan. Dalam tatanan global yang semakin terhubung, kesalahpahaman kecil dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar apabila tidak dikelola secara tepat.

Johan menegaskan bahwa kedaulatan tidak berarti menutup diri dari dunia internasional. Sebaliknya, kedaulatan mencerminkan kemampuan suatu negara dalam mengambil keputusan secara mandiri dengan tetap mempertimbangkan dinamika global yang ada.

“Dengan pendekatan yang terukur dan seimbang, Indonesia diharapkan mampu menjaga independensi nasional tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi serta kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Menguatkan Daya Tahan Bangsa

Kekuatan Indonesia di tengah dinamika global tidak hanya ditentukan oleh posisi geopolitiknya, tetapi juga oleh daya tahan domestik sebagai sebuah bangsa. Dalam situasi penuh ketidakpastian, negara dengan fondasi internal yang kuat dinilai lebih mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan eksternal.

Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah kemandirian pangan. Ketergantungan berlebihan terhadap pasar global dinilai dapat meningkatkan kerentanan terhadap gejolak internasional. Oleh karena itu, penguatan produksi dalam negeri perlu terus didorong, seiring dengan upaya diversifikasi sumber pasokan guna menjaga stabilitas ketersediaan pangan.

Selain itu, Johan juga mengingatkan bahwa ketahanan fiskal menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nasional. Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dilakukan secara hati-hati agar tetap memiliki ruang untuk merespons berbagai kemungkinan yang muncul. Disiplin fiskal serta efisiensi belanja dinilai semakin krusial dalam menghadapi tekanan global.

Di bidang diplomasi, Indonesia dituntut untuk bersikap cerdas dan adaptif. Upaya membangun jaringan kerja sama internasional yang luas perlu terus diperkuat, tanpa harus terjebak dalam rivalitas blok kekuatan besar yang saling berseberangan.

Johan menilai, dinamika geopolitik saat ini menjadi pengingat bahwa isu global memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Mulai dari harga pangan hingga stabilitas ekonomi keluarga, efeknya dirasakan secara nyata di tingkat domestik.

“Dengan demikian, Indonesia diharapkan mampu menjaga konsistensi sebagai bangsa yang merdeka dalam sikap, bijak dalam mengambil keputusan, serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan global,” pungkasnya.

Tags: Ancaman GlobalBoard of PeaceGlobalJohan Rosihan
ADVERTISEMENT

BERITA Lainnya

Wakil Ketua MPR RI Eddu Soeparno
Nasional

Kebakaran TPA Terus Berulang, Eddy Soeparno: Benahi Hulu dan Pengawasan TPA

by snc4
18 July 2026

Suaranusantara.com- Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy...

Siti Fauziah di acara LCC Papau Selatan
Nasional

Merajut Persatuan dari Papua Selatan, Menguatkan Empat Pilar dari Ujung Timur Negeri

by snc4
18 July 2026

Suaranusantara.con - "Izakod Bekai Izakod Kai” menjadi semboyan yang...

Lestari Moerdijat ajak anak muda untuk tingkatkan literasi

Lestari Moerdijat: Pencegahan Tindak Kekerasan Harus Konsisten Dilakukan Demi Menyelamatkan Masa Depan Bangsa

18 July 2026
Lestari Moerdijat

Dorong Pemanfaatan Teknologi AI Bangun Kemandirian Penyandang Disabilitas

18 July 2026
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di acara peresmian blok gas Abadi Masela, Maluku (Instagram @bahlillahadalia)

Pemerintah Prioritaskan Warga Lokal Bekerja di Proyek Gas Abadi Masela, Bahlil: Anak Daerah Sudah Dikirim ke Akademi Migas

17 July 2026
Marinus Gea sosilisasi Empat Pilar MPR RI di UNIAS

Marinus Gea: Kepemimpinan Pancasila Berbasis Gotong Royong Kunci Wujudkan Universitas Nias sebagai Center of Excellence

17 July 2026

Discussion about this post

POPULER MINGGU INI

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani tanggapi soal kebijakan WFH (Instagram @shibtawidjajakamdani)

Begini Kata Pengusaha Soal Opsi WFH Demi Hemat BBM Imbas Perang Timur Tengah

4 months ago
Ilustrasi harga emas mulai dari Antam mengalami kenaikan (instagram @sukabumikuid)

Harga Emas Antam Kembali Melemah Buyback Ikut Turun

4 months ago
Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira (Instagram @andreaspareira)

Prabowo Akan Tertibkan Pengamat Tak Suka Pemerintahannya, PDI Perjuangan: Ini Risiko Rakyat yang Telah Memilih

4 months ago
Rupiah Melemah, Dolar AS Kuat (Dok ilustrasi)

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Menjelang RDG BI

4 months ago
Komisi III DPR RI Soroti Serangan Air Keras terhadap Aktivis HAM Andrie Yunus

Komisi III DPR RI Soroti Serangan Air Keras terhadap Aktivis HAM Andrie Yunus

4 months ago

TOPIK: PEMILU 2024

PDIP Menang Pemilu Tiga Kali Beruntun, Tapi Citra Publik Menurun?

Rekomendasi Rakernas V PDI Perjuangan: Penyalahgunaan Kekuasaan Jadi Biang Kerok Pemilu 2024 Terburuk Sepanjang Sejarah Indonesia

Ketua KPU RI di Laporkan ke DKPP; Lakukan Pelanggaran Kode Etik dengan Cara Merayu sampai Buat Asusila

Djarot Sebut PDIP Akan Layangkan Gugatan Pemilu 2024 ke PTUN

450 ASN di Laporkan ke Bawaslu Atas Dugaan Pelanggaran Netralitas Pemilu 2024

PILIHAN EDITOR

Andreas Hugo Pareira Minta Revisi UU HAM Tetap Jaga Kemandirian Komnas HAM

Pertahankan Hasil Disertasinya, Marinus Gea Tegaskan ESG Bukan Beban, tapi Sumber Nilai Perusahaan

Bocoran Terbaru Samsung Galaxy S26 Ultra: Pengisian Daya Lebih Cepat, Lebih Cerdas?

Soal Kasus Pandji, Marinus Gea: Demokrasi Tak Boleh Kalah oleh Rasa Tersinggung

Marinus Gea Tanggapi Temuan KPAI: Dugaan Pelecehan oleh Polisi Harus Diusut Tuntas

BERITA TERKINI

Bahlil Klaim Gas Abadi Masela Tingkatkan Penerimaan Negara sampai Rp.680 Triliun dan Buka Ribuan Lapangan Kerja
Nasional

Bahlil Klaim Gas Abadi Masela Tingkatkan Penerimaan Negara sampai Rp.680 Triliun dan Buka Ribuan Lapangan Kerja

by Feri Spt
17 July 2026

Suaranusantara.com- Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim blok gas raksasa Abadi Masela di Kabupaten...

Badan Pengkajian MPR RI

Kelompok III Badan Pengkajian MPR RI Bahas Ketidaksesuaian Pelaksanaan Desentralisasi, Otonomi Daerah, Pemerintahan Daerah, dan Desa

17 July 2026
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bicara soal perbaikan JPO Tendean (Instagram @pramonoanungw)

Tak Pakai APBD Murni, Ini Jurus Jitu Pramono Anung untuk Pembiayaan Perbaikan JPO Tendean yang Rusak Diseruduk Truk Alat Berat

17 July 2026
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan gelar rapat khusus pekan depan soal JPO Tendean (Instagram @pramonoanungw)

Pramono Anung Minggu Depan Akan Gelar Rapat Khusus, Bahas Percepatan Perbaikan JPO Tendean yang Rusak Diseruduk Truk Alat Berat

17 July 2026
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan bangun banyak pedestrian biar warga Ibu Kota nggak mager lagi (Instagram @pramonoanungw)

Pramono Anung Akan Bangun Banyak Pedestrian: Biar Masyarakat Nggak Mager Lagi dan Hidup Sehat

17 July 2026
Load More

Subscribe to our newsletter

Footer-Suara-Nusantara-Logo

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

  • Disclaimer
  • Karier
  • Kode Etik
  • Info Iklan
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Tentang Kami
  • UU Pers

PLATFORM LAINNYA

  • marinus gea
  • storia studio
  • marinus-gea-logo
  • morege

IKUTI KAMI

© 2022 Suara Nusantara. All rights reserved.

 

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Login
  • Politik
  • Olahraga
  • Daerah
  • Nasional
  • Entertainment
  • Teknologi
  • Otomotif
  • Lainnya
    • Lifestyle
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Indeks

SuaraNusantara.com menerapkan jurnalisme sesuai kaidah jurnalistik dan asas kemanusiaan agar berita disajikan tidak saja objektif dan bermakna, melainkan juga mampu membangkitkan optimisme dan perilaku positif para pembaca.

©2025 SuaraNusantara.com