
Jakarta – SuaraNusantara
Saat kampanye dulu, pasangan Anies-Sandi berjanji akan menyediakan rumah tapak DP 0% untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi warga tidak mampu di ibu kota. Ketika pasangan ini akhirnya terpilih, janji tersebut pun segera direalisasikan. Sayangnya, fakta di lapangan ternyata tidak semanis janji saat kampanye dulu.
Janji rumah tapak segera berubah menjadi rumah lapis, yang sebenarnya sama saja dengan rumah susun, hanya namanya saja yang diganti. DP 0% pun tidak membawa manfaat lantaran kabarnya banyak biaya ini itu di awal pemesanan yang bila ditotal nilanya bisa mencapai 20 jutaan. Sudah begitu cicilan bulanannya pun terasa memberatkan, yaitu kira-kira antara Rp 1,8 juta hingga Rp 2,6 juta tergantung tipe rumahnya.
Hari ini, warga Jakarta kembali disuguhi kenyataan pahit. Anies-Sandi akhirnya mengakui bila warga dengan penghasilan UMR Rp 3,6 juta saja akan kesulitan untuk membayar cicilan tersebut. Namun mereka berkelit, bagi warga yang tidak bisa membeli rumah susun tersebut, dapat menyewa dengan cara membayar biaya sewa setiap bulan. Tentu saja hak ini tidak sesuai janji kampanye, karena artinya warga tetap tidak bisa memiliki rumah sendiri.
Dalam waktu dekat, Pemprov DKI Jakarta bahkan bakal membangun rumah susun sederhana sewa (Rusunawa). Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan kegiatan ini berdasarkan permintaan dari Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman.
“Itu lagi bikin dan Kadis Perumahan ngajuin itu (Rusunawa),” katanya di Balai Kota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (22/1/2018).
Sandi mengakui bahwa Pemprov semakin yakin bahwa mereka perlu membangun Rusunawa pasca mendapatkan keluhan dari beberapa warga Ciracas, Jakarta Timur, yang tak memenuhi persyaratan untuk membeli DP rumah Rp 0 karena pendapatannya di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP).
“Tadi beberapa temen-teman di Ciracas mereka faktanya gak bisa masuk skema rumah 0 rupiah karena pendapatan di bawah UMP,” pungkasnya.
Penulis: Askur

















