Suaranusantara.com – Perayaan hari raya Idul Fitri (Lebaran) sangat identik dengan berbagai tradisi unik, salah satunya pembagian amplop berisi uang atau biasa disebut angpao kepada sanak saudara hingga tetangga.
Meskipun, bukan suatu kewajiban namun banyak masyarakat yang melakukan tradisi tersebut.
Menariknya, masyarakat biasanya menukarkan terlebih dahulu uang lamanya dengan uang baru sebelum membagikan angpao kepada sanak saudara.
Selain bertujuan mendapatkan pecahan uang kertas baru, menukar uang juga dimaksudkan untuk mendapatkan pecahan uang kertas yang nominalnya sesuai untuk dibagikan.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, Imaduddin Sahabat menghimbau agar masyarakat tidak tergoda untuk menukarkan uang lamanya di jasa penukaran uang pinggir jalan lantaran dikhawatirkan terdapat uang palsu.
”Untuk memastikan yang pertama uangnya layar edar, kedua uangnya tidak palsu, ketiga rawan kejahatan. Lebih baik dan lebih aman datang (tukarkan-red) ke bank atau bank Indonesia,” jelasnya dalam program G-Talks di Channel Youtube MrG TV, dilihat Selasa (11/4/2023).
Untuk menghindari uang palsu yang masih kerap terjadi, Imaduddin juga mengingatkan masyarakat untuk selalu melakukan yang disebutnya sebagai 3D.
“Yang pertama adalah dilihat apakah benar tertulis 100 ribu, ada bank Indonesia dan burung garudanya. Bisa dilihat juga dari warnanya, pudar atau tidak,” paparnya.
Imaduddin juga menjelaskan D yang kedua yakni diraba.
“Bagian pertama yang harus diraba itu misal (angka-red) 100 ribu nya saja agak terlihat kasar, karena menggunakan bahan yang berbeda,”terangnya.
Langkah terakhir, masyarakat dapat memastikan uang asli atau palsu dengan cara diterawang.
”Bisa dilihat ada gambar watermarknya (gambar muka orang-red), yang disebut rectoverso,” jelas Imaduddin. (ADT)


















Discussion about this post