SuaraNusantara.com-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa perekonomian Indonesia tetap stabil meskipun menghadapi tantangan global. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap positif pada kuartal ketiga, didukung oleh inflasi terkendali, surplus neraca perdagangan, dan peningkatan daya beli masyarakat.
Menurut Sri Mulyani, PMI manufaktur Indonesia hingga Agustus 2023 telah mencapai 53,9, melebihi negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 40 bulan berturut-turut, meskipun ekspor dan impor mengalami penurunan.
“Kita perkirakan untuk kuartal tiga pertumbuhan ekonomi kita tetap di atas 5 persen. Kinerja APBN juga masih cukup solid dan kuat,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita secara daring, dikutip Kamis, 21 September 2023.
Baca Juga:Â Staf Kemenkeu Bantah Pemerintah Gadai APBN ke Tiongkok untuk KCJB
Namun, Sri Mulyani mengingatkan bahwa surplus neraca perdagangan telah mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan stabilitas eksternal akan memengaruhi perekonomian dalam jangka pendek dan menengah.
Di sisi lain, inflasi domestik terkendali dengan inflasi Agustus sebesar 3,3 persen. Meskipun demikian, perlu waspada terhadap kenaikan harga volatile food yang signifikan.
Aktivitas ekonomi domestik menunjukkan ketahanan dan pemulihan yang kuat, dengan tingkat optimisme masyarakat yang tinggi. Konsumsi tetap stabil, penjualan riil tumbuh positif, dan APBN diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan melindungi kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga:Â Kaesang dan Sri Mulyani Dapat Sepeda, Menang Baju Adat Terbaik
“Indonesia yang masih bertahan PMI ekspansinya juga menunjukkan suatu aktivitas yang menguat pada level 53,9,” kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani menegaskan pentingnya menjaga kesehatan APBN dan mengawasi dinamika ekonomi global, karena kondisi global dapat memengaruhi APBN dan ekonomi nasional.

















Discussion about this post