
Jakarta-SuaraNusantara
Berdasarkan data Bank Dunia, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,02% selama 2016. Pada urutan pertama dan kedua, diisi oleh China dan India.
“Pertumbuhan ekonomi kita itu nomor ketiga tertinggi di dunia,” kata Jokowi, saat memberikan sambutan di acara pelantikan pengurus Partai Hanura di Gedung Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/2/2017).
Ia menyebutkan, di tengah perlambatan ekonomi dunia, ekonomi Indonesia pada kuartal I 2016 mencapai 4,91 persen. Kemudian, pada kuartal II 2016 sebesar 5,18 persen, dan kuartal III 2016 sebesar 5,02 persen.
Dalam beberapa kesempatan, Jokowi juga pernah berkata bila berbagai indikator menunjukkan perbaikan, seperti angka kemiskinan, angka pengangguran, dan angka kesenjangan.
“Angka kemiskinan, meski kecil, mengalami penurunan. Pengangguran juga turun, padahal negara yang lain melonjak. Gini ratio juga membaik, jangan naik lagi. Sudah 0,397, sekecil apapun harus turun,” imbuh dia.
Ia menjelaskan, angka inflasi dalam dua tahun terakhir juga bisa dikendalikan dengan baik. “Tahun lalu mencapai 3,5 persen, tahun ini diperkirakan mencapai 3,0 persen. Ini artinya, kenaikan harga barang bisa dikendalikan,” ucapnya.
Ia menuturkan, pertumbuhan ekonomi tinggi tidak akan berarti jika inflasi juga tinggi. “Kalau pertumbuhan ekonomi 5,0 persen, inflasi 3,0 persen, masih ada selisih 1,5 persen, tapi kalau pertumbuhan ekonomi 5,0 persen, sementara inflasi 8,0 persen, itu artinya kita tekor,” ujarnya.
Pada 2017, Jokowi menargetkan ekonomi tumbuh 5,1% atau lebih tinggi dibandingkan realisasi sebelumnya. Namun target itu lebih rendah dibandingkan ekspektasi banyak lembaga internasional seperti Bank Dunia maupun ADB.
Di sisi lain, ketimpangan pendapatan antar masyarakat dan wilayah di Indonesia juga terus dibenahi dengan cara implementasi kebijakan yang mampu berefek kepada seluruh masyarakat di Indonesia.
“Kita inginkan agar ada pemerataan ekonomi, sehingga tidak ada lagi ketimpangan,” katanya.

















