
Jakarta – SuaraNusantara
Faham radikalisme masih menjadi momok menakutkan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pemerintah sebenarnya telah berupaya untuk menekan perkembangan faham tersebut melalui program deradikalisasi. Namun apakah program itu berjalan kurang maksimal, mengingat aksi teror yang merupakan pangkal dari faham radikalisme baru saja terjadi di daerah Jawa Barat.
Menanggapi hal itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo kurang begitu sepakat jika program deradikalisasi yang digagas kementeriannya dinilai tidak berjalan maksimal.
Terkait aksi teror di Jabar, bekas Sekjen PDI Perjuangan itu menegaskan, bahwa pelaku pengeboman memang terus beranak-pinak. Meski demikian, ia mengapresiasi Densus 88 yang telah berhasil mengungkap pelaku bom panci yang terjadi di Taman Pandawa, Jalan Kresna, Kota Bandung, Jabar tersebut.
“Ini kan sel-selnya banyak. Justru ini upaya keberhasilan Densus yang mengungkap, mengejar. Densus itu mengejar. Jadi densus tuh sekali jalan enggak satu orang, langsung krek 10, ini kan sel-selnya beranak pinak,” jelas Tjahjo di Kantor Pusat Kemendagri, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (27/2/2017).
Kata Mendagri Tjahjo, pihaknya telah memberikan warning atau peringatan kepada seluruh kepala daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota agar terus mencermati gelagat perkembangan faham radikal.
“Ya kan pernah dikumpulkan kepala daerah di sini (di Kemendagri) dan Kepala BNPT pernah bicara. Pernah diberikan warning,” ujar dia.
Tjahjo menambahkan, dalam pertemuannya itu, pihaknya mengundang Kepala BNPT, Kapolri, Panglima TNI dan Menteri Polhukam untuk menjadi pembicara.
“Kepala BNPT bicara, Kapolri bicara, Panglima bicara, Polhukam bicara. Supanya mencermati gelagat perkembangan (faham radikal) ini,” tukas Tjahjo.
Penulis: Hasbullah

















