Suaranusantara.com- Sebelumnya, tarif TransJakarta direncanakan akan mengalami kenaikan, bermula dari Rp.3.500 menjadi sekitar Rp.5.000 hingga Rp.7.000.
Kendati demikian, kenaikan tarif TransJakarta belum diberlakukan lantaran masih harus menunggu persetujuan dari Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan DPRD.
“Sampai saat ini belum ada tarif Transjakarta naik. Penyesuaian dibutuhkan, tapi belum ada. Karena kita menunggu surat Pak Gubernur ke DPRD meminta persetujuan untuk penyesuaian, itu artinya akan ada kenaikan dan sampai saat ini kan belum ada,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub), Syafrin Liputo Balai Kota, Jakarta, Minggu 2 November 2025.
TransJakarta diketahui resmi beroperasi sejak 15 Januari 2004. Itu artinya sudah menemani warga Jakarta selama lebih dari 20 tahun lamanya.
Sejak diluncurkan itu, TransJakarta memiliki tarif Rp.2.000. Namun, berdasarkan SK Gubernur DKI No. 1912/2005, pada tahun 2005 tarif Transjakarta menjadi Rp 3.500 dan berlaku hingga hari ini.
Tapi tahukah kamu, kalau ternyata tarif asli TransJakarta bukan Rp.3.500 loh. Di balik harganya yang terjangkau itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menanggung subsidi dalam jumlah besar agar layanan tetap terjangkau.
Data Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) TransJakarta menunjukkan, tarif Rp 3.500 hanya menutupi sebagian kecil dari total biaya operasional.
Artinya, setiap kali penumpang membayar tiket seharga Rp 3.500, Pemprov DKI menanggung kekurangannya sekitar Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per perjalanan.
Besaran subsidi ini berbeda-beda tergantung rute dan jenis armada yang digunakan. Selisih antara tarif operasional dan tarif yang dibayar masyarakat inilah yang dikenal sebagai subsidi public service obligation (PSO) atau kewajiban pelayanan publik.
Berdasarkan laporan, tarif ideal Transjabodetabek sebenarnya mencapai Rp 15.000 per sekali perjalanan.
Namun, berkat subsidi dari Pemprov DKI, masyarakat cukup membayar Rp 3.500. Kebijakan subsidi ini bertujuan agar harga tiket Transjabodetabek tetap terjangkau, sekaligus menjaga kualitas layanan transportasi publik.
Kebijakan subsidi ini bertujuan agar harga tiket Transjabodetabek tetap terjangkau, sekaligus menjaga kualitas layanan transportasi publik.
Dengan begitu, masyarakat diharapkan beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum untuk menekan kemacetan di wilayah Jabodetabek.
Pada tahun 2025, Pemprov DKI bahkan menambah alokasi anggaran subsidi TransJakarta sebesar Rp 300 miliar hingga Rp 400 miliar.
Dana tambahan tersebut akan digunakan untuk membuka rute baru dalam kota, memperluas jangkauan Transjabodetabek, serta menambah armada bus listrik.
Hingga saat ini, TransJakarta telah membuka lima rute Transjabodetabek, yaitu Blok M-Alam Sutera, Blok M-PIK 2, Cawang-Vida Bekasi, Lebak Bulus-Sawangan, serta Blok M-Kota Bogor (dan sebaliknya.
Lima rute tambahan direncanakan beroperasi secara bertahap hingga akhir tahun, termasuk rute baru Terminal Bekasi-Dukuh Atas yang akan melalui Tol Becakayu.
Kabar terbaru, Pemprov Jakarta memastikan akan menaikan tarif bus rapid transit (BRT) itu dalam waktu dekat seiring meningkatnya beban subsidi.
Beredar kabar bahwa tarif TransJakarta akan menjadi Rp 5.000.
Masyarakat yang tinggal di Jakarta selama ini hanya perlu membayar Rp 3.500 untuk bisa menggunakan layanan TransJakarta yang memiliki panjang lintasan atau koridor mencapai 408,98 kilometer dan non-koridor 2.326 kilometer.
Adapun layanan TransJakarta telah melayani 244 rute dengan 14 koridor utama dengan 8 tipe layanan, yaitu 51 rute BRT, dan 61 rute angkutan umum integrasi.
Layanan lainnya di bawah TransJakarta adalah 94 rute mikrotrans, 5 rute bis wisata, 1 layanan transjakarta cares, 13 rute Royaltrans, 10 rute Transjabodetabek, dan 19 rute ke kawasan rumah susun.


















Discussion about this post