
Pamekasan -SuaraNusantara
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Muhammad Tarsun, menilai kualitas pendidikan di Kabupaten Pamekasan menurun tahun ini. Hal ini diindikasikan dari beberapa hasil Ujian Nasional (UN) baik tingkat SD, SMP maupun SMA tahun ini.
Hasil UN siswa SMA di Kabupaten Pamekasan tahun ini berada di tingkat ketiga paling bawah se-Jawa Timur. Begitu pula tingkat SMP, berada di peringkat bawah. Capaian ini membuat Tarsun merasa malu di hadapan pejabat di Jakarta beberapa waktu lalu, karena kalah peringkat dibanding Nusa Tenggara Timur (NTT)
“Kita nilainya kemarin rata-rata 4,6 sedangkan NTT sudah jauh di atas Kabupaten Pamekasan. Kami mendapat gojlokan di Jakarta, beberapa waktu lalu,” kata Tarsun, Jumat (30/6/2017).
Menurut Tarsun, penyebab keterpurukan pendidikan di Kabupaten Pamekasan bukan karena siswa. Tetapi karena faktor guru sendiri. Guru terlalu banyak intervensi terhadap pelaksanaan UN. Guru telah mengajarkan ‘ketidakjujuran’ kepada muridnya.
“Selama ini kita perlu sadar atas kesalahan yang kita lakukan karena kita tidak jujur kepada diri sendiri dan anak didik kita. Ini perlu kita benahi,” ungkap Tarsun.
Untuk membenahinya, Dinas Pendidikan menekan kepada seluruh lembaga pendidikan tingkat menengah dan tingkat atas untuk melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Dengan UNBK, kecil kemungkinan guru mengintervensi soal-soal. Penekanan ini berhasil karena 100 persen semua SMP dan SMA, baik negeri maupun swasta bisa UNBK.
“Hasil UNBK kemarin anjlok tidak masalah karena tingkat kejujurannya tinggi. Saya mengajak guru untuk melepas muridnya mengerjakan soal sendiri. Guru harus maksimal melakukan intervensi sebelum ujian,” beber Tarsun.
Penulis: Has

















