SuaraNusantara.com-Pohon Natal adalah salah satu simbol paling ikonik dari perayaan Natal. Pohon cemara yang dihiasi dengan ornamen-ornamen seperti lampu, lilin, hiasan, dan kado telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Natal di seluruh dunia.
Lalu, bagaimana sejarah awal pohon Natal?
Asal usul pohon Natal modern masih diperdebatkan, karena pohon telah digunakan dalam ritual dan dekorasi sejak zaman kuno. Namun, banyak yang percaya bahwa tradisi pohon Natal tersebut berasal dari Jerman.
Pada Abad Pertengahan, orang-orang Jerman menggunakan pohon evergreen, termasuk cemara, untuk menghias rumah-rumah mereka selama perayaan Natal. Pohon-pohon ini melambangkan kehidupan kekal dan harapan akan masa depan yang cerah.
Baca Juga:Â Red One: Film Aksi Komedi Natal yang Menggabungkan Dwayne Johnson dan Chris Evans
Pada abad ke-16, Martin Luther dilaporkan pertama kali menggantungkan lilin yang menyala di pohon Natal. Hal ini dilakukan untuk mewakili bintang Bethlehem yang menuntun para gembala ke tempat kelahiran Yesus Kristus.
Pada abad ke-19, pohon Natal menjadi tradisi yang mapan di Jerman. Ketika orang Jerman bermigrasi, mereka membawa tradisi ini ke negara lain, terutama Inggris.
Ratu Charlotte dari Jerman menikah dengan Raja George III pada pertengahan abad ke-18. Ia diduga adalah orang yang memperkenalkan pohon Natal pertama ke kerajaan. Namun, pangeran kelahiran Jerman, Albert, dan istrinya, Ratu Victoria dari Inggris, lah yang mempopulerkan tradisi ini di kalangan orang Inggris.
Baca Juga:Â 5 Pantai-Pantai Dekat Jakarta yang Layak Dikunjungi saat Liburan Natal dan Tahun Baru
Pasangan ini menjadikan pohon Natal sebagai bagian penting dari perayaan liburan tersebut. Pada 1848 sebuah ilustrasi keluarga kerajaan di sekitar pohon yang dihias muncul di sebuah surat kabar London. Pohon Natal segera menjadi hal biasa di rumah-rumah Inggris.
Tradisi pohon Natal di Jerman kemungkinan besar juga tiba di Amerika Serikat (AS) pada akhir abad ke-18. Ini ketika pasukan Hessian bergabung dengan Inggris untuk berperang dalam Perang Revolusi.
Pada tahun-tahun berikutnya, para imigran Jerman juga membawa tradisi tersebut ke AS dan, seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut menjadi daya tarik bagi orang Amerika lainnya.
Keluarga Amerika mengadopsi pohon Natal secara lebih luas setelah tahun 1850, ketika majalah Godey’s Lady’s Book menerbitkan ulang adegan Natal keluarga kerajaan Inggris. Namun majalah tersebut melakukan beberapa perubahan, mengedit mahkota Victoria dan ikat pinggang kerajaan Albert untuk mengubahnya menjadi satu versi keluarga Amerika.
Sejak saat itu, tradisi pohon Natal menyebar ke seluruh dunia. Pohon Natal tidak hanya digunakan di rumah-rumah pribadi, tetapi juga di gereja-gereja, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat umum lainnya.
Tidak hanya menggunakan pohon asli, ada juga yang membuatnya dari pohon buatan. Pohon buatan mendapatkan popularitas yang digantikan oleh versi buatan, seperti terbuat dari aluminium dan plastik.
Pohon Natal telah menjadi simbol penting dari perayaan Natal. Pohon ini melambangkan kehidupan kekal, harapan, dan kegembiraan.


















Discussion about this post