Suaranusantara.com- Akademisi Dr. Serius Zebua menyoroti perubahan cara berinteraksi masyarakat di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat. Ia menilai, pergeseran tersebut turut memengaruhi nilai-nilai etika yang dahulu dijunjung tinggi dalam kehidupan sosial.
“Di masa lalu, tindakan kecil seperti menundukkan badan atau mengucapkan permisi bukan sekadar kebiasaan, melainkan bahasa halus dari penghargaan terhadap sesama. Ia menjadi semacam jembatan tak terlihat yang menjaga keseimbangan hubungan antar generasi. Melalui gestur sederhana itu, seseorang seolah berkata bahwa keberadaannya tidak berdiri sendiri, ada orang lain yang layak diberi ruang, perhatian, dan penghormatan,” ujar Dr. Serius Zebua.
Ia menjelaskan, perubahan zaman menghadirkan cara berinteraksi yang berbeda. Kecepatan hidup modern membuat etika yang dahulu diwujudkan melalui tindakan kini kerap digantikan oleh ekspresi yang lebih sederhana.
“Namun dalam perjalanan waktu, perubahan perlahan membentuk wajah baru dalam kehidupan manusia. Kecepatan zaman menghadirkan cara berinteraksi yang berbeda. Etika yang dahulu diungkapkan melalui tindakan kini sering digantikan oleh ekspresi yang lebih ringan sebuah senyum singkat, kadang bahkan senyum yang tampak cuek. Senyum itu mungkin tetap ramah di permukaan, tetapi tidak selalu membawa kedalaman makna yang sama seperti etika yang hidup dalam tindakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menggambarkan perubahan tersebut sebagai pergeseran yang halus namun signifikan dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Perubahan ini ibarat senja yang menggantikan terang siang. Cahaya masih ada, namun nuansanya berbeda. Jika dahulu penghormatan diungkapkan melalui gestur yang jelas dan penuh kesadaran, kini ia sering hadir dalam bentuk yang lebih samar sebuah anggukan kecil, atau sekadar senyum tanpa kata. Dalam kesibukan yang semakin padat, manusia sering berjalan melewati satu sama lain tanpa lagi sempat menegaskan rasa hormat melalui tindakan yang nyata,” ungkapnya.
Menurutnya, di balik perubahan tersebut, terdapat pelajaran penting yang perlu dipahami masyarakat.
“Di sinilah tersimpan pelajaran yang tenang namun mendalam, bahwa dalam setiap perubahan zaman, manusia tetap memerlukan keseimbangan antara kemajuan dan kehalusan budi. Sebab pada akhirnya, bukan hanya cara kita tersenyum yang membentuk kualitas hubungan sosial, tetapi juga kesediaan kita untuk menunjukkan penghormatan melalui tindakan yang tulus,” tuturnya.
Ia pun menegaskan bahwa menjaga etika sederhana tetap relevan di tengah kehidupan modern.
“Dan mungkin, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, membungkukkan sedikit badan sambil berkata ‘permisi’ adalah cara sederhana untuk mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan kelembutan etika yang menjaga kemanusiaan tetap hidup,” pungkasnya.


















Discussion about this post