Suaranusantara.com – Seorang siswa SD berinisial B (8) di Medan, Sumatera Utara (Sumut), diduga meninggal dunia setelah mengalami perundungan dan pemukulan oleh tetangganya yang juga kakak kelasnya.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengecam keras kasus ini dan mendesak agar kasus ini diselidiki dengan seksama dan transparan.
Anggota KPAI, Diyah Puspitarini, menyatakan keprihatinan atas kasus ini. KPAI sedang memantau perkembangan kasus ini dan berkoordinasi dengan instansi terkait di Medan.
“KPAI sedang melakukan pengawasan terhadap kasus ini dengan berkoordinasi dengan UPTD setempat, aparat penegak hukum, dan Dinas Pendidikan terutama sekolah yang terlibat,” jelasnya.
Diyah mengharapkan agar kasus ini diungkap secara menyeluruh. Dia berharap kasus ini menjadi pelajaran bahwa Indonesia saat ini menghadapi darurat kekerasan terhadap anak-anak.
“Kasus perundungan terutama terhadap anak-anak harus diselesaikan dengan tuntas dan terbuka, sehingga kita semua dapat belajar tentang urgensi penanganan kekerasan terhadap anak di Indonesia,” ujarnya.
Dalam menghadapi proses hukum dalam kasus ini, Diyah menekankan pentingnya menjunjung tinggi prinsip sistem peradilan anak, terutama jika terduga pelaku adalah anak di bawah umur.
“Namun, tetap perlu memperhatikan prinsip Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPPA) dan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, terutama dalam perlindungan anak-anak sebagai saksi dan jika terdapat anak-anak sebagai pelaku,” kata Diyah.
Ibu korban memberikan pengakuan tentang kasus ini. Yusraini (37), sang ibu, mengatakan bahwa awalnya B pulang dengan menangis setelah berjualan setelah sekolah.
“Ketika dia pulang dari sekolah, dia datang ke saya sambil menangis, sekitar pukul 12.00 siang. Dia mengatakan bahwa dia baru saja dipukuli dan diperlakukan kasar oleh abang kelasnya. Kejadian itu tidak terjadi di sekolah.
Pada saat itu, dia belum memberitahu saya berapa banyak orang yang terlibat, hanya pelaku abang kelasnya yang juga tetangga,” kata Yusraini saat diwawancarai di rumahnya.
Yusraini melanjutkan, “B mengeluh bahwa seluruh tubuhnya terasa sakit. Pada malam hari, dia demam. Dia juga tidak mau makan dan minum, tetapi kami memaksanya untuk makan beberapa sendok.
Setelah itu, kami membawanya ke dukun. Pada hari Kamis (22/6) hingga Senin (26/6), dia hanya berada di rumah. Dia merasa ketakutan dan sering berdelir. Akhirnya, B mengeluh sakit kepala. (Dn)


















Discussion about this post