Jakarta-SuaraNusantara
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias Selatan, Sumatera Utara, menyambut baik Program pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) yang digulirkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Lahan seluas 60.000 hektare di Nias Selatan bahkan telah disiapkan untuk pengembangan tanaman jagung dan kelapa.
“Kami siap menyediakan lahan kurang lebih 60.000 hektare untuk mengembangkan tanaman jagung dan kelapa,” ujar Bupati Nias Selatan Hilarius Duha yang didampingi anggota DPR RI dari Komisi V Rooslynda Marpaung saat menemui Menteri Kemendes PDTT, Eko Putro Sandjojo, di kantor Kemendes PDTT, di Jakarta, bulan November 2017 silam.
Dia menjelaskan, jumlah petani jagung di Pulau Nias kian hari kian menurun. Kondisi ini terjadi karena petani merasa merugi dengan harga jual jagung yang terus turun. Padahal secara geografis kawasan Nias sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan perkebunan jagung dan kelapa.
Menteri Eko Putro Sandjojo pada acara Jakarta Marketing Week di Jakarta, Selasa (9/5/2017) silam mengakui bila pembinaan desa yang fokus pada sektor produksi tertentu pada akhirnya dapat mengurangi kesenjangan desa dan kota.
“Desa-desa yang maju itu sudah fokus pada sektor produksi tertentu, jadi bisa terintegrasi dari hulu ke hilir. Desa memiliki peluang yang sangat besar untuk dikelola sehingga dapat mengurangi kesenjangan desa dan kota,” ujarnya.
Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di perdesaan, Kemendes PDTT pun terus mendorong empat program prioritasnya.
Pertama adalah Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) dengan mengedepankan klasterisasi ekonomi di desa. Kedua adalah pembentukan embung yang bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, sehingga ke depannya setiap embung yang dikelola dengan baik akan diberi bibit ikan.
Ketiga adalah pembentukan dan pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mendorong desa menjadi mandiri dan mendapat penghasilannya sendiri. Terakhir adalah pembangunan sarana olahraga karena kemajuan suatu daerah juga didukung dengan masyarakatnya yang sehat.
Program Kementerian Desa ini telah didukung 19 Kementerian dan lembaga seperti Kementerian pertanian yang telah memiliki komitmen untuk memberikan bibit, pupuk dan traktor secara gratis. Dari Kementerian PU akan membantu akses penunjangnya seperti jembatan dan jalan.
“Sedangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membantu memberikan bibit ikan secara gratis pada setiap embung (kolam) yang dibangun di desa,” tambah Eko.
Khusus Prukades atau Produk Unggulan Kawasan Pedesaan, ini merupakan program untuk memajukan desa dengan menciptakan produk unggulan desa. Diyakini dengan memiliki produk unggulan akan memudahkan desa membangun akses pasar dan berbagai hambatan yang selama ini dihadapi warga desa dalam membangun percepatan ekonomi.
Dalam menentukan produk atau komoditi unggulan, perangkat desa dan petani harus sepakat mengenai tanaman apa yang akan dibudidayakan, mengikuti musim. Contohnya, memasuki musim hujan maka warga desa harus menentukan komoditi apa yang cocok ditanam pada masa tanam ini.
Jika produk bersama ini telah menjadi kesepakatan, maka warga bakal menanam komoditas yang sama, sehingga ketika panen tiba, desa itu memiliki jumlah komoditas pertanian dalam jumlah besar yang memudahkan warga mendapatkan pasar karena memiliki komoditas dalam skala besar.
Langkah Pemkab Nias Selatan menyiapkan lahan seluas 60.000 hektare untuk mendukung program Prukades sebagaimana disebutkan di awal tulisan, patut diapresiasi, dan seyogyanya bisa diikuti oleh kabupaten-kabupaten lainnya di Kepulauan Nias.
Tinggal sekarang menunggu hasilnya, apakah program ini kelak benar-benar bisa dijalankan dan terbukti mampu meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat, khususnya petani.
Penulis: Cipto

















