SuaraNusantara.com – Benget Hasiholan Mare Mare, seorang pendaki asal Riau, membagikan pengalamannya saat berhasil menyelamatkan diri dari erupsi Gunung Marapi pada Minggu (3/12) lalu. Bersama rombongannya, anggota Mapala Batara Fakultas Hukum Universitas Riau, mereka telah mencapai puncak Gunung Marapi sekitar pukul 10.00 WIB pada hari itu.
Setelah makan siang dan bersiap turun, rombongan terbagi dalam beberapa kelompok saat perjalanan turun. Benget, bersama kedua adiknya, berada di barisan terdepan memimpin rombongannya.
Tak lama setelah turun, mereka mendengar suara gemuruh yang tak lazim. Saat adiknya menduga itu sebagai badai, Benget menyadari tanda-tanda erupsi dari hujan bebatuan.
Baca Juga:Â Sumber Gempong Trawas: Wisata Alam Pedesaan Serasa di Rumah Nenek
“Saya langsung bilang ke rombongan kecil itu, ‘Ini bukan suara petir! Ini erupsi! Ayo cepat turun!'” ungkapnya.
Mengarahkan rombongannya ke tempat aman, mereka berlari untuk menghindari hujan batu yang terjadi, sebelum akhirnya berkumpul di bekas warung di sekitar lereng Gunung Marapi.
Dari sana, mereka bergerak menuju pos Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dengan perjalanan yang memakan waktu sekitar 90 menit. Di pos BKSDA, mereka mendapatkan penanganan pertama untuk anggota yang mengalami cedera ringan akibat hujan batu.
Setelah melaporkan diri ke Kantor Wali Nagari Batu Palano, anggota tim yang cedera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut.
Meski sebagian besar anggota rombongan telah pulih dari cedera ringan, beberapa anggota pemula masih merasakan dampak trauma yang cukup berat karena pengalaman mencekam itu.
Erupsi Gunung Marapi pada Minggu (3/12) lalu mengakibatkan 23 pendaki meninggal dunia, sedangkan 52 lainnya berhasil selamat dari bencana tersebut. (Alief)


















Discussion about this post